Thursday, November 20, 2014

The Discipline of Letting Go

Quoted and edited from “What Management Is”by Joan Magretta, page 186-189.
14 November 2014

Pulling the plug on an existing activity can be a wrenching experience. Such decisions are necessary since they are the only way to liberate resources from yesterday’s priorities. Peter F. Drucker, an always astute observer of human behavior, noted repeatedly that the greatest obstacle to innovation in organizations is the unwillingness to let go of yesterday’s success, and to free up resources that no longer contribute to results. He once referred to the products and businesses we cling to most tenaciously, despite their mediocre performance, as “investments in managerial ego”. The solution, says Drucker, is the discipline of “systematic abandonment” – as this is how he called it. We needed to ask very tough question, “If you weren’t already in the business, would you enter it today?” And if the answer is no, face that second difficult question, “What are you going to do about it?”

People hate to lose turf, to lose face, to lose, period! They get stuck in a mental trap that economist call sunk cost. A sunk cost is an investment of time or money that can no longer be recovered or put to another use. In plain English, it’s money down the drain. This concept is covered early in any basic finance course, and the lesson is an important one: When you are evaluating whether to invest today, you have to ignore what you’ve already invested. Instead you must ask, will I get a good return on the money and time I’m going to invest from this moment forward?

This lesson has to be taught because it’s not how most people are wired emotionally. Psychologists have known for years that people hate to walk away from decisions they have already made. This finding has been borne out anew by studies in the field of behavioral finance, which focuses on the psychology of investing. It makes little difference whether the mistake involves buying a stock, or developing a new product or hiring an employee: People much prefer to carry on in the hopes that their earlier decisions will be vindicated. The discipline of sunk costs helps managers avoid this trap, and can deter them from throwing good money after bad.

As the pace of competition has quickened, businesses must be more disciplined than ever about letting go, or they will squander resources they need to build tomorrow.

Saturday, November 15, 2014

Opportunity - The Neglected Part of Corporate Staff Meetings

Monthly staff meetings often filled with discussions about issues, problems, and how to solve them. But there's usually one major thing that often been neglected or be left not discussed: Opportunities. The word, opportunity, is so familiar (commoditized) that people tend to take it for granted. Numbness has developed.

Think of it, experiment and discover. How much is the ratio of opportunity discussions as against problem solving discussions.

Peter Drucker said that one source of innovation comes from solving the customer's problem. Small it may seem in the beginning. But when diligently thought through, the potential can be huge.

However, we often encounter impediment to successful value building,  which is the lack of persistence to really think through (lazy-ness) of an idea brought to the table. But at the same time, tendency to abdicate to an idea brought by one influential member of the firm, can also be crippling as well. A half baked idea can be acclaimed prematurely because the bearer is an important member of the company. The rest are just feeling to weak to challenge the charisma and power, although doubts and argument about the idea still clings around.

Chances of a company discovering that they stumble into an idea that can be developed to be a great value for the customers the company are serving are enormous. But it requires persistence in analysis - thinking through with the kind of wit that ancient philosophers thought through the purpose of human existence. It requires an attitude of bravery against cowardice. It prefers martyrdom as opposed to safe mediocrity.

As Isaac Newton thought through an ordinary event of an apple falling down from it's tree, with which gave birth to the extraordinary discovery of the fundamental Newton's Law.

So, start by opening your minds toward problems on hand, but spare some capacity to seek for opportunities within those issues. Then act on it, bring out to the open. Let it be developed, nurtured, and challenged. Ensure that it grows and don't hold it when it transforms to something entirely new that really is the one thing that is of value to the customer.

On another hand, discovery of an opportunity may come from other member of the company, junior his or her grade may be. Don't kill it on the spot. Open minds and hearts, and offer encouragement. Resist to the temptation of self glory by putting the company you work for above individual ambitions. After all, success is a "together" thing and who would be better to build and share them with, if not with fellow companions in the company. The ones you spend approximately one third of your productive life with.

A great idea of opportunity will remain just as good will, until people start acting on it. But acting on an opportunity requires philosopher grade thinking, hard work, dealing with challenges, blood, sweat, and tears. But these are heroes stuff, and there's big possibility for heroes to end up in memorial parks. Mediocrity offers illusion of tranquility and safety, whereas it corrupts your essential human factor: Survival. This then becomes a matter of choice of becoming a hero or enough with becoming zero, nil, naada.

Mobil Tua Bakal Dilarang Beredar di DKI

Berita di halaman-1 koran Bisnis Indonesia hari Kamis, 13 Nopember 2014.

RETROs and Classics Beware!

Banned, Illegal and subject to demolition in DKI.

Saya kaget dan langsung sedih.

Apakah maksudnya "Dilarang Beredar?" Kalau maksudnya adalah pembatasan waktu jalan untuk beberapa (atau bahkan seluruh jalur jalan DKI) untuk jam atau hari tertentu, maka saya hanya bisa pasrah. Tetapi kalau maksud "Dilarang Beredar" artinya DKI tidak mengijinkan keberadaan mobil berusia diatas 10-tahun, tidak ada STNK yang akan diterbitkan bahkan akan dicabut, maka saya hanya bisa sedih tanpa berani protes. Karena sang pemimpin kota pasti telah memikirkan hal ini untuk kepentingan yang lebih besar dari sekedar kepentingan pribadi seorang warga ber katepe DKI.

Namun saya tetap bertanya "Sebenarnya apakah yang menjadi masalah, dan apakah tujuannya (pelarangan beredar tersebut)?" Kalau tujuannya untuk mengurangi kemacetan, mengurangi emisi karbon (karena mobil tua dituduh sebagai adalah biang kerok polusi karbon), dan pengehmatan energi (karena mobil tua dituduh tidak hemat energi), maka saya harus bertanya lagi.

Apakah memang mobil tua yang jumlahnya lebih dari separuh (>50%) dari 50%-60% kendaraan yang beredar di wilayah Jabodetabek, adalah penyebab kemacetan? Apakah memang mobil tua adalah kontributor signifikan dari polusi karbon yang dampaknya adalah derita terselubung warga DKI? Apakah memang ada porsi signifikan pemborosan energi karena ulah mobil tua?

Saya mencoba menjawab dengan pendekatan perenungan atas motivasi utama dari pemilik mobil tua, dan saat ini hanya 2-faktor motivasi yang saya temukan. Pertama adalah faktor keterbatasan kemampuan finansial. Pemilik mobil tua tidak atau belum mempunyai mobil baru karena memang belum atau tidak mampu membeli mobil baru. Yang kedua adalah motivasi emosional, sebagai Retro and Classic lovers, karena kenangan khusus yang dipertahankan dalam wujud mobil tua tersebut, atau segala bentuk emosi yang pemiliknya merasa dapat diekspresikan dalam mobil tua yang dimilikinya.

Untuk motivasi yang pertama, saya merasa bahwa ketiga argumen yang melandasi niat melarang mobil tua untuk beredar, masih membutuhkan validasi lebih lanjut, karena beberapa alasan. Yang pertama dan paling utama, karena ketidak mampuan sang pemilik secara finansial, maka mobilitasnya secara alamiah akan dibatasinya - hemat, sehingga potensi mobil miliknya berkontribusi pada kemacetan akan menjadi kecil. Pasal mobilnya sebagai kontributor signifikan pada polusi karbon, mungkin benar. Tapi polusi karbon adalah fungsi dari volume BBM yang dibakar, waktu mengubah BBM menjadi polusi karbon, koefisien jumlah karbon per satuan volume BBM.. Kembali lagi pada motivasi dasar, kesadaran akan kenyataan tentang ketidak mampuan secara finansial, maka waktu pakai mobilnya akan rendah dan jumlah volume polusi karbon yang dipancarkannya juga akan rendah. Soal tidak hemat energi (BBM), saya anggap benar. Artinya, daya tempuh untuk satu satuan volume BBM (km/lilter) mobil tua mungkin lebih rendah dibandingkan mobil baru dengan kapasitas volume mesin yang sama - karena teknologi baru lebih efisien. Namun dengan kesadaran akan fakta ini dipadu dengan keterbatasan kemampuan finansial, maka jumlah tempuh rata-ratanya ada kemungkinan lebih rendah dari rata-rata jumlah jarak tempuh kendaraan baru.  Akibatnya jumlah pemakaian BBM-nya sangat mungkin lebih rendah. Bahkan mungkin sang pemilik akan lebih memilih menggunakan moda transportasi lain seperti motor, atau kendaraan umum, untuk kegiatannya sehari-hari. Dengan asumsi kualitatif di atas - apabila benar, saya merasa bahwa ketiga argumen landasan pelarangan mobil tua, akan menjadi tidak valid.

Sedangkan untuk motivasi yang kedua, yaitu motivasi emosional, asumsi saya berkisar pada intensitas utilisasi mobil tua tersebut. Sang pemilik tentunya tidak akan menggunakan mobil tua kesayangannya itu untuk kegiatan sehari-harinya. Mungkin sesekali waktu akhir pekan, untuk suatu acara khusus - sehingga mobil tua tersebut akan lebih banyak stasionernya, karena hanya obyek dicuci, dibersihkan, dipoles biar mengkilap, dan dipanaskan sesekali. Utilitasnya akan lebih banyak sebagai obyek untuk penyedap mata dan pemuas gairah emosional belaka. Sehingga utilitasnya sebagai alat transport, akan sangat sedikit. Akibatnya, ketiga argumen dasar tadi juga menjadi tidak valid berdasarkan argumen saya.

Satu pandangan yang menurut saya penting tentang penghematan energi yang saya ingin ketengahkan adalah keinginan saya untuk mengetahui, berapakah seberapa besarkah energi yang dibutuhkan (mungkin dalam satuan kWh atau setara barel minyak) untuk memproduksi sebuah mobil baru - yang tentunya layak untuk beredar di DKI tercinta.Sehemat-hematnya konsumsi energi industri otomotif moderen dewasa ini, masih akan merupakan penambahan terhadap total konsumsi energi negeri ini. Seboros-borosnya, energi yang dikonsumsi oleh mobil tua karena utilitasnya sebagai alat transport berdasarkan kedua motivasi yang saya pikirkan, PASTI akan lebih kecil daripada energi yang dikonsumsi oleh industri otomotif untuk membuat satu mobil baru yang hemat energi. Belum lagi kalau ditambah oleh energi yang digunakan oleh pembeli sehingga mampu untuk membeli sebuah mobil baru. Belum lagi kontribusi tambahan polusi karbon yang dipancarkan oleh industri otomotif untuk membuat satu mobil baru.

Kalau argumen saya benar (saya bukan ilmuwan, bukan orang pintar), maka secara ekstrim saya bisa katakan, kalau mau mengurangi kemacetan, mengurangi polusi, dan menghemat energi - maka batasi saja produksi mobil baru. Tentunya ini ekstrim, dan berakibat pada perekonomian secara umum. Tapi, silahkan dipikirkan sebuah model untuk mengalihkan hasil ekonomi konsumen otomotif dari membeli mobil baru kepada membeli, merestorasi dan merekondisi mobil lama sehingga memiliki kualifikasi hemat energi dan ramah lingkungan. Suatu pandangan yang akan menumbuhkan kegiatan ekonomi baru, dan mungkin sebagai sumber inovasi bangsa dan keunggulan komparatifnya terhadap bangsa-bangsa lain - dan sekaligus, mungkin, mencapai obyektif dari pemerintah DKI untuk mengurangi kemacetan, menekan polusi, dan menghemat energi.

Namun, pemikiran saya hanyalah asumsidari kerangka pikir dan cara pandang yang berbeda - yang belum tentu layak. Paling jauh ini adalah sekedar hipotesa kualitatif yang tidak atau belum teruji. Namun tulisan ini adalah sekedar tumpahan kesedihan belaka. Tentunya para petinggi metropolitan lebih berkompeten untuk berargumentasi. Saya hanyalah warga DKI yang belum berniat untuk membeli mobil baru, karena berbagai alasan dan saya sangat mencintai mobil saya yang menjelang tua dan saya anggap masih sangat layak untuk saya gunakan pada saat-saat khusus. Namun untuk kepentingan rakyat banyak yang lebih besar, saya harus rela melepas mobil kesayangan saya yang menjelang tua seperti saya, entah kemana.

Tuesday, September 3, 2013

Kenapa Orang Islam Harus Kaya?

Latar Belakang

Lingkungan saya adalah lingkungan yang sarat dengan distorsi materialisme dan hedonisme. Kecenderungan bermegah-megahan dalam berbagai hal, telah  memasuki tahap yang berbahaya. Yang mengerikan adalah kecenderungan materialisme dan hedonisme tersebut dibungkus dengan kemasan Islam. Yang dimanifestasikan dengan pertanyaan sinis: "Apakah orang Islam tidak boleh kaya?". Dan sering dijawab "Boleh.", "Bahkan harus kaya.", "Tidak ada larangan untuk orang Islam menjadi kaya", dan berbagai pola tanya-jawab lain yang berkisar pada fokus materi duniawi.

Tujuan Penulisan

Saya mengetengahkan isu ini sebagai monolog dalam proses usaha mencari jawaban yang absolut terhadap tujuan kehidupan yang sangat singkat ini dan cara menjalaninya dengan benar. Supaya, di kehidupan selanjutnya yang abadi, saya tidak menerima konsekwensi yang buruk dari akibat keliru memahami hakikat kehidupan dan perjalanannya. Karenanya subyektifitas saya akan sangat nyata dalam tulisan ini.


Saya mulai tulisan ini dengan menyatakan bahwa bagi saya istilah "Kaya", adalah suatu kondisi. Kondisi yang berada di luar kekuasaan manusia. Meskipun secara kausalitas, banyak orang percaya bahwa ada korelasi antara usaha dan hasil. Namun prinsip saya adalah bahwa tiada daya dan upaya kecuali hanya dari Allah Azza wa Jalla, dan segala sesuatu telah dituliskan takdirnya.

Indikasi dari masalah tercermin pada konsep yang populer dalam peradaban manusia sekarang ini, kesejahteraan suatu bangsa dikuantifikasi dengan angka GDP (gross domestic product) yakni angka rata-rata pendapatan perorangan dalam suatu negeri, yang mengarah kepada indeks kemampuan beli masyarakat (konsumerisme) negeri tersebut. Hal ini adalah salah satu akidah dari faham kapitalisme dan materialisme. Bahwa manusia akan makin sejahtera, dus bahagia bilamana memiliki kemampuan beli, atau kaya. Padahal, yang dituju sebenarnya adalah kesejahteraan suatu bangsa, namun entah dimana dalam prosesnya, GDP yang seharusnya hanya sekedar indikator kuantitatif pendapatan, menjadi obyektif. 

Kaum Muslimin dijejali dengan suatu dalil materialisme-kapitalisme yang populer dan telah mengkristal, adalah bahwa barangsiapa yang berusaha, secara otomatis, akan mendapatkan hasil. Manusia dipaksa menjadi alat produksi sekaligus konsumen dari produk-produk materialistis. 

Hal ini,  adalah suatu perangkap pola pikir (syubhat). Entah bagaimana, telah terabaikan bahwa kita sebagai ciptaan dan hamba Allah hanya wajib berusaha, sedangkan hasil adalah urusan Nya.  Dan sedihnya, umat Islam sedikit demi sedikit, sadar maupun tidak, telah terseret kedalam lubang gelap materialisme-kapitalisme.

Jadi sekali lagi saya tanyakan kepada diri saya: "Bolehkah kita kaya?" jawabnya "Boleh.". Namun saya susul dengan pertanyaan berikutnya "Lantas, buat apa kita kaya?". Jawabannya adalah:  "Yaaa, biar enak, gitu loh - emang miskin enak? Sumpek, tauk!". Atau, bisa juga dijawab dengan elegan bahwa "Dengan kekayaan kita bisa banyak beramal.".

Pertanyaan saya selanjutnya, "Bagaimana caranya (untuk menjadi kaya)?". Dan saya sedang memikirkan bahwa pertanyaan ini sebetulnya merupakan pertanyaan yang tidak pada tempatnya. Dimana pertanyaan ini adalah perangkap pola pikir materialistis yang mengakibatkan bangkitnya kecintaan akan dunia. Bagaimana tidak pada tempatnya? Sedangkan tujuan penciptaan kita sebagai manusia adalah untuk beribadah mengabdi pada Allah. Artinya, tunduk patuh terhadap perintahNya, dan menjaga diri untuk tidak melakukan apapun yang bisa membuatNya murka. Hal ini harusnya sebagai titik pusat perhatian kita. Bukannya bagaimana menjadi kaya.

Perangkap pola pikir lainnya adalah "bagaimana kita dapat memenuhi rukun Islam yang ke-5 bilamana kita tidak kaya?". "Apakah membangun masjid, sekolah, dan pengurusan fakir-miskin tidak membutuhkan dukungan harta?".


Kiranya bilamana dipikirkan secara jernih, bahwa bukannya kekayaan yang akan mendorong kita untuk menunaikan rukun Islam yang ke-5, membangun masjid dan sekolah, mengurusi fakir-miskin; atau ber-amal saleh pada umumnya. Namun pendorong kita beramal adalah keimanan yang teguh, dan ketaqwaan yang prima. Sedangkan harta sebagai salah satu bentuk rizqi adalah sebagai alat. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang akan memberikannya bagi hamba-hambanya yang bertaqwa, Namun tanpa ketaqwaan, bahkan kekayaan akan bisa menjadi ujian bagi pemegangnya.Dan akhirnya jadilah pemegangnya menjadi budak kekayaan itu. Ingatlah akan sabda Nabi Salallahu 'alayhi wa Sallam tentang "Hamba dinar dan dirham".

Soal menjadi kaya (atau miskin), sudah ditentukan ketika umur kita sebagai janin mencapai 100-hari . Yang harusnya kita lakukan adalah  mengabdi kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan sekedar mencari nafkah untuk menunjang kehidupan kita, sebagai wujud pengabdian atau ibadah, karena kita diperintahkan sebagaimana dalam Al-Quran, surat Adz-Dzariyat ayat 56, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin adalah untuk beribadah kepada Nya.

Selanjutanya, perlu juga ditelaah, sebenarnya kenapa kita membahas tentang boleh tidaknya "orang Islam menjadi kaya". Apakah kita memiliki kemampuan menjadikan diri kita kaya? Seperti Karun yang merasa dirinya menjadi kaya karena ilmu yang dimilikinya. Lebih dalam lagi, kenapa harus diberi atribut "orang Islam". Kenapa tidak secara jujur saja cukup dengan pernyataan "Saya Ingin Kaya".

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan? (Huud, 15-16)

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang [duniawi], maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik. (Al-Israa, 18-19)

Lantas, bagaimana dengan ayat al-Qur-an berikut ini?
 ”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari [kenikmatan] duniawi....” [Al Qashash:77]
Meskipun harus dipelajari lebih lanjut tafsir ayat ini, tetapi dari terjemahannya, jelas tidak ada larangan atau celaan bagi seorang muslim untuk menikmati dunia ini. Namun, dengan tetap mematuhi perintahNya dan menjauhi larangannya (= taqwa) . Namun ada penafsiran bahwa yang dimaksud dari hal duniawi dalam ayat tersebut adalah persiapan kita untuk kain kafan.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Sholallahu 'alayhi wa Sallam menunjukkan bahwa seseorang seharusnya menyikapi kehidupan dunia seolah seorang musafir yang sedang berteduh, atau menyeberangi jalan (atau sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu'alayhi wa sallam). Secara komparatif aktifitas berteduh dan menyeberangi jalan  dalam rangkaian aktifitas perjalanan musafir adalah sangat kecil.

Kerancuan berpikir (Syubhat) lainnya yang berkembang di kalangan kaum Muslimin adalah bahwa kondisi umat sekarang ini adalah dalam keadaan keterpurukan dan ini membutuhkan peran kaum muslimin dalam bidang ekonomi dan politik. Konsep strategi ini diluncurkan supaya kaum Muslimin menguasai perekonomian dan politik. Namun yang kerap diabaikan bahwa pemikiran atau konsep seperti ini adalah kerancuan berpikir yang terwarnai oleh konsep kapitalisme dalam bidang ekonomi dan demokrasi dalam bidang politik. Ini bukan dari Islam.

Dalam al-Qur-an, Allah Azza wa Jalla menyatakan akan memberikan kekuasaan di muka bumi ini bilamana kita beriman dan bertaqwa (QS .... ayat .....). Selain itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menyatakan apabila penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, maka Allah akan turunkan keberkahan dari langit dan bumi (Al-A'raf, 96). Jadi, dengan beriman dan bertaqwa, kekuasaan dan keberkahan akan diperoleh.

Perlu diperhatikan bahwa kata kunci pada ayat yang disebut paling akhir, adalah istilah "keberkahan". Sesuatu yang banyak dilupakan oleh kaum Muslimin. Keberkahan adalah pertambahan. Bahkan suatu ungkapan menyebutkan bahwa keberkahan adalah meskipun bila sebulir gandum seharga satu dinar (4,25 gr emas), kita tetap makan gandum sampai kenyang. Inilah daya beli yang sebenarnya, dan keberkahan adalah dari Allah Azza wa Jalla.

Sehingga (perlu diperiksa silang dengan penafsiran yang sahih dari para ulama), kalau kaum Muslimin di negeri Indonesia menghendaki kejayaan, gemah ripah loh jinawi, maka kriteria iman dan taqwa harus dipenuhi. Pertanyaannya adalah, apakah kaum Muslimin telah benar-benar memahami arti "iman" dan "taqwa" secara benar, sebagaimana yang dimaksudkan oleh Allah dan Rasul-Nya?

Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak pernah ingkar janji!

Hal di atas adalah fenomena yang merupakan indikasi dari pemahaman (sebagian, besar) umat Islam yang keliru tentang konsep kehidupan dan serba-serbinya. Agama Islam telah lengkap sempurna disampaikan kepada manusia. Namun (sebagian) kaum Muslimin bersikap taken for granted terhadap agamanya sendiri. Bahkan, tidak merasakan adanya kebutuhan yang penting untuk mempelajari agama ini secara benar, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah kepada umat terbaik. Malah terpana dan latah mencampur-adukkan agama yang sempurna ini dengan filosofi materialisme dan perilaku kapitalisme. Padahal dalam agama yang sempurna ini, semua telah Allah Subhanahu wa Ta'ala sampaikan melalui Rasulnya yang mulia, 'Alayhi Shalatu wa Sallam - apa-apa yang mendekatkan manusia ke surga dan yang menjauhkan dari neraka. Karenanya, harta atau kekayaan yang harusnya menjadi alat dalam mengabdi, berevolusi menjadi tujuan, dan tujuan (Islam = selamat) terreduksi menjadi sekedar atribut - dan akibatnya keberkahan tidak pernah terwujud.


Akhirnya saya tutup tulisan ini dengan menyimpulkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak pernah memerintahkan orang Islam untuk menjadi kaya. Yang ada adalah perintah Taqwa. 

Judul tulisan ini sendiri adalah suatu kesalahan. Kesalahan yang diakibatkan oleh sikap taken for granted umat Islam terhadap agamanya sendiri dicampur dengan bumbu hawa nafsu (desire, lust...etc.), yang berujung pada kerancuan dalam mengadopsi pola pikir (syubhat) . Dalam Islam, manusia dan jin diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk beribadah dengan benar kepada-Nya. Tanpa embel-embel pertanyaan sebagaimana judul tulisan ini. Bilamana dalam perjalanan hidup seorang Muslimin ternyata dikaruniai Allah kekayaan, dia wajib bersyukur dalam arti yang benar. Dan untuk yang tertuliskan takdirnya mengalami ujian kesempitan harta, harus bersabar, juga dalam arti yang benar, menurut Allah dan RasulNya.  


saya berharap ampunan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

4 September 2013

inspirasi dari -
- ...
- ....

Taken for Granted

Saya sering menemukan istilah di atas dalam berbagai literatur berbahasa Inggris yang saya baca, namun - karena sering menjumpainya, saya anggap bahwa saya telah mengerti arti dan maksud idiom tersebut. Entah kenapa, akhir-akhir ini saya tergelitik untuk benar-benar mencari tahu terjemahan arti dan maksud ungkapan tersebut dari sumber yang bonafide – dan mencari padanan maknanya dalam bahasa Indonesia.

Ternyata tidak saya temukan jawaban yang memuaskan saya tentang arti dan makna istilah “taken for granted”. Yang paling dekat menurut saya adalah “menganggap biasa” dan “kurang diperhatikan” atau “biasa aja – gak penting”. 

Menarik bahkan sangat menarik! Karena apabila kita menelusuri proses pembentukan bahasa suatu kelompok, suku atau bangsa. Setiap kata merupakan nama atau sebutan dari suatu obyek tertentu – apakah itu berwujud sebagai benda, suatu aktifitas atau kerja, maupun sifat yang menyertai suatu obyek tertentu. Rumput dinamai rumput karena ada orang yang mengetahui adanya rumput dan ingin menyebutnya dengan suatu sebutan yang spesifik, yakni rumput. Kalau tidak ada rumput, maka orang tidak perlu memberikan atau memilih nama untuk rumput. Karena rumput adalah sesuatu yang tidak ada. Suatu kata benda atau nama atau istilah yang menunjuk kepada suatu obyek sangat mungkin dibentuk oleh ucapan manusia dengan sengaja mengandung sifat dan/atau wujud dari obyek tersebut. Adanya nama adalah karena ada obyek yang membutuhkan nama untuk menyebutnya. Apakah kurangnya referensi bahasa kita tentang istilah tersebut merupakan cerminan budaya masyarakat kita? Tapi saya bukan ahli bahasa dan bukan anthropologist.

Istilah, terkadang menunjukkan suatu makna yang lebih luas ataupun lebih dalam dari pada arti kata dalam istilah tersebut; yang sangat mungkin bahkan tidak sama sekali atau sedukit mewakili arti kata yang tercantum dalam istilah tersebut. Misalnya istilah “tergelitik” yang saya pakai sebelumnya. Nggak ada yang menggelitiki saya secara literal, namun istilah tersebut hanya ungkapan bahwa saya terdorong (biarpun, tidak ada gaya Newton yang benar-benar mendorong tubuh saya) untuk melakukan sesuatu yang lebih dari biasanya. Menunjukkan penekanan akan pentingnya. Istilah ada karena ada obyek yang harus dinamai atau diistilahi..

Tentang istilah taken for granted – yang dimaknai dalam bahasa Indonesia sebagai “dianggap biasa – kurang diperhatikan”, tidak cukup memaknai fenomena besar yang hendak dilukiskan oleh istilah tersebut. Pemiihan kata-kata bahasa Indonesia yang mengartikan istilah tersebut tidak terasa memiliki bobot yang cukup untuk menggambarkan apa yang sebenarnya berlangsung. Bahasa Inggris memilih suatu rangkaian kata yang panjang, mungkin menunjukkan bobot makna yang perlu perhatian lebih – lebih dari sekedar biasanya.

Kita menganggap biasa tentang hal-hal yang kita anggap kecil yang kita temui dan alami setiap hari. Misalnya, ketika terbangun di pagi hari. Suatu hal yang (kita anggap) biasa. Setiap tarikan nafas dan hembusan setelahnya, setiap rangkaian denyut jantung – juga suatu hal yang biasa. Padahal apakah kita yakin seyakin-yakinnya besok pagi dan pagi-pagi selanjutnya kita masih akan bangun dari tidur? Apakah kita juga tahu dan yakin bahwa setelah menarik nafas kita akan menghembuskannya? Demikian juga dengan jantung kita ketika menyusut apakah setelahnya akan berkembang lagi?

 Setiap butir nasi yang kita makan, kita anggap biasa. Padahal, perjalanan butir nasi tersebut dari tidak ada sampai menyusup ke dalam rongga perut kita merupakan rangkaian perjalanan panjang yang dramatis. Karena para petani yang mengerahkan energi dan waktunya sedemikian rupa untuk mengolah tanah, mengairinya; mencari, mengumpulkan dan kemudian menabur benih; menjaganya, sampai waktu panen; penggilingan padi, gabah, pemisahan beras dengan kulit gabah, transport dari satu tempat sampai ke mesin penanak nasi di rumah kita, dan seterusnya dan seterusnya. Namun hal seperti itu cenderung kita anggap biasa – Taken for Granted.

Dan saya bisa membicarakan puluhan kalau tidak ratusan, bahkan bisa ribuan contoh dari hal-hal yang senantiasa kita anggap biasa. Sehingga karena kita menganggap biasa begitu banyak hal – begitu banyak hal pula yang kurang mendapat penilaian kualitatif yang layak, yang sebenarnya merupakan hak mutlak dari hal tersebut.

Apakah sama dengan refleks?

Kita menganggap biasa suatu hal bukan karena kita tidak tahu bahwa hal itu ada. Namun lebih karena kita berasumsi bahwa kita tahu sudah cukup banyak tentang hal itu. Dan kita menganggap bahwa hal itu adalah biasa. Kita merasa bahwa kita sudah ahli. Padahal assumption is the mother of all f…..-ups!

Sebuah teori psikologi menyatakan bahwa kita cenderung untuk tidak memperhatikan (baca: menganggap biasa) sesuatu yang sangat akrab dengan kita. Salah satunya adalah benda yang kita lihat setiap hari, seperti jam tangan kita. Suatu eksperimen psikologi mengungkapkan bahwa sebagian besar subyek pengujian mengalami kesulitan atau bahkan tidak dapat menggambar muka jam tangan mereka. Sesuatu yang mereka lihat berkali-kali dalam sehari. Karena telah terlalu akrab akan berujung kepada sikap menganggap biasa yang berakibat kurangnya perhatian, pengabaian, atau bahkan lebih dari itu.

Itulah juga bedanya anak kecil dengan orang dewasa. Pada perkembangan seorang anak teramati bahwa mereka memiliki rasa ingin tahu yang besar – yang sering cenderung berbahaya. Sebaliknya, orang dewasa pada umumnya, karena (merasa) sudah cukup berpengetahuan – telah kehilangan sebagian besar sifat ingin tahu tersebut. Buat apa tahu lebih banyak lagi, toh sudah cukup tahu. Padahal rasa ingin tahu, ingin mencoba sesuatu yang baru, adalah hakikat dari kreatifitas dan penemuan-penemuan terbesar dalam kehidupan manusia.

Para pakar di berbagai bidang kehidupan dunia, seperti ekonomi, budaya, bahasa, teknologi, psikologi, dan lain-lainnya – adalah orang-orang yang memiliki sikap awal tidak menganggap biasa sesuatu. Mereka masih memiliki dan memelihara sebagian sifat anak kecil dalam jiwa mereka – rasa ingin tahu. Bandingkan dengan makna istilah nggak mau tau. Mereka sadar bahwa ada kekurangan dalam pengetahuan mereka tentang suatu hal. Mereka senantiasa meninjau suatu hal dengan kritis, bahkan dengan berani mempertanyakan kembali suatu hal yang sudah dianggap biasa.

Saya berikan contoh tentang Sir Isaac Newton dengan apelnya. Fenomena apel jatuh dari pohon ke tanah telah hampir pasti terjadi dari sejak adanya apel dan tanah. Tetapi kenapa hanya Newton yang memperhatikannya, mempertanyakannya, memikirkannya dan akhirnya melahirkan suatu pendapat dan memperjuangkan dengan gigih pendapat itu sehingga terkukuhkan menjadi teori tentang gaya tarik bumi atau gravitasi.

Demikian pula dengan seorang ekonom terkenal yang bernama Adam Smith, pada tahun 1776 dengan kritis menyatakan dalam tulisannya yang fenomenal “An Inquiry into the Nature and Causes of The Wealth of Nations”:
“It is not from the benevolence of the butcher the brewer, or the baker that we expect our dinner, but from their regard to their own interest.”
Yang maknanya adalah bahwa apa yang diharapkan tersaji sebagai hidangan makan malam seseorang bukanlah karena keluhuran budi dan kebaikan hati sang tukang daging, pembuat minuman, atau sang tukang roti. Tetapi karena seseorang tersebut dapat memberikan apa yang mereka butuhkan dengan ditukar dengan hasil produksi mereka.

Tentunya kita dan bahkan orang-orang pada jaman sebelum Smith sudah tahu itu, tidak perlu dijelaskan – tidak penting. Namun Smith, secara aktif memilih melakukan pengamatan yang kritis dan analisanya telah melahirkan serangkaian pemikiran yang dianut sebagai landasan prinsip oleh para penyokong konsep perekonomian kapitalis dewasa ini.

Newton dan Smith tidak menganggap biasa fenomena yang mereka jumpai. They did not take things for granted. Diakui atau tidak diakui, dirasakan atau tidak dirasakan. Sikap mereka untuk tidak menganggap biasa hal-hal yang dianggap biasa oleh kebanyakan orang sangatlah berperan mempengaruhi realita kehidupan kita dan manusia seluruhnya. Karena mereka tidak menganggap biasa sesuatu yang dianggap biasa oleh orang lain.

Iya-lah! Kemungkinannya, sebagian dari yang membaca tulisan saya akan berkomentar “Repotnya kalau kita harus tahu begitu banyak hal (yang biasa) …”. Saya jawab: bahkan kata “repot, ruwet, susah dan keluarganya yang lain” adalah indikasi adanya sikap taking things for granted dalam diri anda. Padahal anda juga belum mulai.

Karenanya, mulailah dari sekarang, hidupkan kembali kenangan masa kecil ketika anda tidak ragu untuk memegang sumbu lilin yang menyala, mencerai beraikan boneka Stromboli kesayangan, membongkar radio sang ayah, mencoba terbang dari atap rumah seperti superman dengan sarung sebagai jubah – pandanglah kehidupan ini dengan sikap ingin tahu yang besar. Yakinkan dengan landasan yang kuat dan teruji bahwa apa saja yang anda tahu tentang sesuatu adalah memang mutlak harus seperti itu adanya. Fakta yang akan terungkap akan sangat memperanjatkan anda.

Di jaman sekarang, akses Internet dan Google adalah perangkat yang sangat membantu dalam kita meninggalkan sikap to take things for granted. Sebagaimana nasihat [nasihat atau nasehat?  Jangan dianggap biasa!] saya kepada anak-anak saya: “Kalau kalian punya komputer dan akses Internet (yang dengannya bisa mengakses informasi sebanyak-banyaknya), dan kalian masih nggak juga pinter; itu artinya kalian memang memilih untuk tidak menjadi pinter (baca: goblok!).” Mudah-mudahan mereka tidak menganggap biasa nasihat saya, dan bisa mengambil faedah darinya.

Meninggalkan sikap taking things for granted akan memberikan warna lain yang “Luar Biasa” dari sesuatu yang selama ini kita senantiasa anggap biasa.

Akhirnya, kekaguman saya sampaikan dan karenanya berterima kasih secara tulus kalau rangkaian tulisan yang merupakan pendapat saya ini dibaca sampai pada bagian ini. Saya hanya manusia, banyak kekurangannya, bisa salah, dan bisa lupa. I sincerely also hope that none of you readers of my humble thought take this writing for granted.

30 Mei 2013
minor update 4 September 2013

Saturday, January 7, 2012

Knowledge is Power - but Wisdom is above all.

I just want to share a doctrine that I have believed so far but eventually degraded to a level of total confusion. Back in the early days of my first employment, a boss of mine had taught me that "Knowledge is Power".

I worked in a company that deals in selling, installing and servicing, computer network cabling system and equipment. We had one goverment bank as a customer that we had installed LAN mainframe access equipment a few years before.

One day, the IT division of this bank raised a help call because some of the PCs can't access the mainframe. After a brief analysis, we concluded that it is caused by a faulty "Terminal Server". This device was brought to our office for repair.

As a newly recruited system engineer, the task was give to me. He told me to login to the equipment's console (at that time it was through a terminal emulator software via RS-232). So I did, and found that the device is working perfectly except that it can not retain the parameters that was set onto it.

My boss guided me to series of deductive thinking process, by mentioning several lecture names that I supposedly have had during my university years. It went somehow like this:
"OK, it can't keep the settings you put on it, right?". "Yes." I answered. "What have you learned about electronic devices, that keeps information within?" He asked again. "RAM." I answered confidently. "Right, but it is volatile by nature. When you turn of the device, that information kept in RAM would be gone". "Well, yes, so it is the flash RAM." I confidently took the hint. And then he said: "Right! So what kept a flash RAM going to keep information?". I answered: "Some battery, I guess?". "Is it so? Well, go find a battery inside the equipment, and check if it still have power in it.".

To keep the story short, the deductive thinking that he guided me and the analysis lead to the fact that the faulty device was due to a dead battery powering the flash RAM. I went to get a new battery and replaced it, and it worked normally afterwards. I reported the result to my boss and asked him the next thing to do. And that was the moment of surprise. "Good work! Now call the bank't IT guy and tell him that we had found the problem, but to fix it it would cost him $ 3,000.00" My boss said casually. I naively said to him: "But It only cost me less than $1.00 for the replacement battery, and it's already fixed.". Then he said "Well, true, but don't tell him that you have fixed the problem. Just say as I instructed you to, OK?". Well, despite the disagreement inside me, I had to follow his instruction, and finally the bank agrees to the amount that my boss is extraorbitantly charging.

After the deal went trough, my boss called me and said: "Now, you understand that what have you learned in school have resulted in a contribution of a large sum of money to us. That is why they said that 'knowledge is power'. By knowing, you can have others that are not knowing to pay you. So be careful to share what you know. You might end up with nothing if everybody knows.". My company ended up with a fat 2-years maintenance contract. And whithin that 2-years, all we did was replace batteries worth less than $1. And I ended up by understanding that knowledge can make money.

Are you familiar with the precept: " Rule #1, Your Boss is always right; Rule #2, if your boss is wrong, then see Rule #1"?

My superiority over others are because of my knowledge versus their ignorance. It is the fact of existence of the more informed and the less that make up economy of the human being. Well, later I discovered that the precept is true but my understanding (my boss') is incomplete, and thus irrelevant compared to some of todays on going activities in the era of information. Knowledge is the result of being informed [], and wisdom is the noble outcome above having knowledge.

I consider the movement to make knowledge free and widely spread is a noble gesture. Although there is a concept that by knowing more to some extent would not be more productive but resulted in the opposite. It is the paradox of choice. But then it would only be valid when people are informed but having not yet developed knowledge let alone wisdom. There is a huge gap between having much information and being smart.

A friend told me, "Today the definition of computer illiterate has changed. You are not called computer illiterate if you do not know how to use your computer. But you are now being called computer illiterate if you have a computer and don't know how to use the information that are very accessible".

However, the rise of Google has also shown us that it's popularity is based on it's effort to develop a search engine as such that can help people find the right information. As one of Google's VP, Marissa Mayer said "The world doesn't need another search engine...", but yet Google succeeds in winning the hearts of billions of people over the already matured other engines, such as Lycos, Yahoo, and AltaVista. It is the believe of Google to open up the jungle of knowledge and to inform the most appropriate whom is searching.

For some other then noble reason that I heard , IBM had made available information about it's PC architecture to the masses in the early 1980s. Look what it had brought us based on Moore's law. An astronomically high computing power in our hands compared to the early computers at relatively miniscule cost.

When talking about his book "That Used to be Us", Thomas L. Freeman said something like this: "there was a time when google is a sound, twitter is a bird, and 4G is a parking lot." And now look what they turned out to be. This is all thanks to the widespread and accessibility of information provided by personal computers, the internet and the most effective search engines.

As I am always telling my children, "If you are gifted to own a computer and having internet access. But yet you do not excell on whatever you do, then it is a matter of choice by which you choose not to excell."

So, I guess the next step after knowledge is power is to develop the ultimate thing which is: wisdom.