Berbagai Halaman

Sunday, October 9, 2016

Dibohongi dengan Al-Quran?


Beberapa pekan ini, media sosial sedang ramai dengan topik penistaan agama oleh seorang tokoh kontroversial yang saat ini menduduki puncak strata pemerintahan pemprov DKI. Ceritanya berawal dari diunggahnya sebuah video dari speech sang tokoh memuat frasa "mau dibodohin" dan kaitannya dengan ayat 51 surat Al-Maidah ke media sosial. Kontan hujatan, laporan penistaan agama ke polisi, bahkan ancaman tindakan kekerasan, bermunculan di berbagai media masa baik elektronik maupun cetak. Tidak mau kalah, komen dukungan, dari sekedar celetukan sampai berbagai analisis tentang isi video tersebut, juga menjadi viral.

Tulisan saya tidak hendak menambah pendapat atau keriuhan di berbagai media. Ini adalah sekedar merenung secara publik.

Terlepas dari segala pembelaan dan segala kemarahan umat Islam - sudah jelas sang tokoh melakukan sebuah kekeliruan fatal, terutama mengingat kedudukannya sebagai pucuk pimpinan tertinggi pemprov DKI dan sebagai non-muslim  - terlebih lagi pada masa-masa mendekati waktu kampanye pilkada DKI.

Kekeliruan fatal pertama adalah:

Video speech-nya bisa ditemui di: https://www.youtube.com/watch?v=dkeOkOmd6_Y (menit ke 19:08 sampai 19:26).

"...nggak bisa pilih saya... dibohongin pake surat Al-Maidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu. Ya... jadi kalo perasaan nggak bisa pilih nih... karena saya takut masuk neraka ... dibodohin gitu ya, nggak papa.. karena ini kan panggilan pribadi bapak ibu".
Bahkan dia menambahkan dengan sebuah kekeliruan fatal lain:
Klarifikasi sang tokoh dapat dilihat di: https://www.youtube.com/watch?v=5q9evqkOH1M (menit ke 0:25 sampai 0:53). Dimana pada video klarifikasi tersebut sang tokoh bahkan menafsirkan ayat 51 Al-Maidah.

Validitas kepemimpinan tokoh tersebut sedang melalui tahap uji publik yang diselenggarakannya sendiri. Secara jelas, terlihat sisi ketegaran dan percaya diri yang besar - yang mungkin termotivasi oleh prinsip yang selama ini diusungnya bahwa keberadaannya adalah untuk DKI yang lebih baik. Pamor seorang pemimpin yang tegas dan bersih telah berhasil mengambil hati sebagian masyarakat negeri ini, khususnya warga DKI.

Inilah demokrasi. Lawan politiknya secara sah dapat menggunakan ayat dari Al-Quran dengan tujuan menggembosi perolehan suara sang tokoh. Tetapi dari dua video tersebut, pertama kata-kata "membodohi" dengan sebuah ayat dari kitab suci umat Islam, sebuah kalimat dari pencipta, pemilik, penguasa alam semesta, maha-raja manusia; wajar saja umat Islam marah. Sebagai tambahan, silahkan rujuk analisis lingusitik tentang kata-kata sang tokoh di:
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/16/10/08/oeq21v-membedah-sisi-linguistik-kalimat-ahok-soal-almaidah-51-part1

Soal niat lawan politik sang tokoh menggunakan ayat ini adalah urusan mereka. Tidak ada kebodohan dalam menerima perintah dari sang pencipta sebagaimana tertulis secara eksplisit. Bahkan sebuah keutamaan bagi seorang hamba sang pencipta.

Bahkan kemudian membela diri dengan melabeli "rasis dan pengecut" pada lawan politiknya yang menggunakan ayat tersebut mau tidak mau turut menodai kitab yang memuat ayat tersebut, pemeluknya, bahkan pemilik kalimat suci, dan pembawa kalimat suci tersebut kepada umat Islam. Ditambah usaha klarifikasi dengan membangun kredibilitas sebagai penafsir berdasarkan pendidikan sekolah Islam selama 9-tahun dari SD sampai SMP, membuat saya ikut marah.

Kebodohan, kebohongan kecurangan, kepengecutan tidak patut disandingkan dengan kalimat dari pencipta alam semesta - raja manusia! Karena kalimat tersebut, adalah mutlak benar dan pasti.

Ini namanya penistaan. Mau di pelintir, di-mind-f**k seperti apapun, namanya: penistaan.

Sejenak...

Sejenak, saya berpikir dengan mengesampingkan berbagai desas-desus negatif dan teori konspirasi; segala pencapaian sang tokoh di DKI yang mencakup berbagai dimensi layanan yang didambakan oleh masyarakat, seperti: tata-laksanan pemerintahan yang bebas perilaku korup dan ramah rakyat, kebersihan dan keindahan, banjir, pembangunan pra-sarana dan sarana transportasi, perumahan bagi kaum marjinal. Bahkan mungkin banyak lagi yang tidak terdeteksi oleh saya. Saya akui adalah sebuah pencapaian yang luar biasa oleh pemimpin DKI dalam waktu kurang dari satu periode jabatan. Rakyat mengakuinya, bahkan bukan hanya warga DKI - namun seluruh Indonesia.

Tetapi saya menganut agama Islam, dan konsekuensinya saya harus mengimani 6-hal, dan salah satunya adalah Al-Quran. Secara eksplisit, ayat 51 surat Al-Maidah melarang saya memilih non-muslim sebagai pemimpin - terlepas dari citra keberhasilan yang berhasil diperagakannya. Bahkan ayat-ayat selanjutnya (sampai ayat 57 surat Al-Maidah), lebih menegaskan larangan ini beserta segala fakta terkait hal yang melingkupinya (circumstantial).

Secara eksplisit, ayat 51 surat Al-Maidah melarang saya memilih non-muslim sebagai pemimpin - terlepas dari citra keberhasilan yang berhasil diperagakannya.

Saya tidak menyalahkan umat Islam yang tidak belum mengerti cara memahami agamanya berada dalam kebingungan tentang hal ini. Namun saya menyesalkan mereka yang tidak belum mengerti cara memahami agamanya namun mengeluarkan pendapat yang bertentangan dengan makna ayat tersebut (mendukung dan membela sang tokoh); sesuatu yang bila dipaksakan lebih jauh bahkan bisa menjurus kepada pembatalan ke-Islaman seseorang. Sesuatu yang secara norma terdiskualifikasi secara otomatis, namun dengungannya di media sosial memang membuat tambah keruh suasana - bukan memberi jalan keluar dari kericuhan ini. Agama Islam memang mengandung hal-hal yang counter-intuitive. Karena itu intuisi bahkan logika manusia tidak cukup digunakan sebagai perangkat untuk memahami agama Islam. Sangat diperlukan sebuah proses menuntut ilmu yang sangat intensif untuk membangun kerangka logika dan intuisi yang tepat.

Yang paling menyakitkan bagi saya adalah para tokoh umat Islam, yang selama ini diakui sebagai intelektual Islam, bahkan membela sang tokoh dan menyimpangkan arti ayat tersebut. Untuk sekelompok yang ini saya ucapkan: duh!

Namun, renungan ini hendak saya tutup dengan usulan solusi untuk 3-pihak saja:

- Bagi para pembela sang Tokoh dari saudara-saudara saa yang beragama Islam. Pelajari agama kita dengan lebih serius. Rujukilah sumber-sumber yang validitasnya sudah berhasil melalui tahapan uji ilmiah selama 1400-tahun keberadaan agama ini. Masalah agama adalah masalah serius. Implikasinya dunia dan akhirat. Akhirat itu kekal. Kalau pemahaman anda akan agama Islam salah, pengamalannya di dunia ini akan salah, kepedihan yang fatal sebagai akibatnya akan abadi atau paling tidak di ordo jutaan tahun di alam akhirat. Seserius anda akan masalah dunia anda, coba mulai serius dengan urusan agama.

Kalau anda mau menempuh pendidikan formal selama belasan tahun sampai tingkat sarjana strata-2 bahkan post-doctoral untuk masalah dunia yang secara statistik paling lama anda jalani tidak sampai seratus tahun; cobalah untuk mempelajari agama Islam sebagaimana umat generasi awal agama ini mempelajari dan memahaminya. Sesuatu yang kita butuhkan untuk mencapai kekekalan dalam keadaan selamat. Banyak manfaat yang akan anda peroleh dan dalam konteks kasus ini, mudah-mudahan anda akan memahami rules of engagement kita dengan selain kita. Please.

- Bagi para pembela sang Tokoh dari kelompok non-muslim. Saya hargai dan pahami sikap anda dan euphoria anda karena ada seorang tokoh minoritas bangsa Indonesia yang begitu moncer dalam bidang pemerintahan. Sesuatu yang langka dan didamba sebagian warga minoritas bangsa ini dan sesuatu yang patut dirayakan. Namun, tolong tinjau ulang sejarah bangsa ini. Lihatlah jasa para founding fathers yang beragama Islam dalam memerdekakan bangsa ini - tanpa bermaksud mengecilkan peran non-muslim. Salah-satunya, ingatlah betapa tolerannya kami demi kemerdekaan dan persatuan Nusantara, kami bersedia menghapus sebagian dari sila pertama dasar negara ini. (silahkan rujuk tulisan saya http://hanya1jalan.blogspot.co.id/2015/07/antara-piagam-jakarta-dan-pancasila.html). Kesemuanya atas nama tujuan bersama yakni: kemerdekaan bangsa Indonesia yang berdaulat dan bersatu. Untuk itu, paling tidak tolong pertahankan unjuk sikap dan tutur kesantunan terhadap sesama warga bangsa yang beragama Islam.

- Secara khusus, bagi sang Tokoh: Mungkin lebih baik bila anda mundur setapak (bukan selangkah). Mintalah maaf kepada umat Islam yang keagamaannya telah anda lukai. Akui bahwa anda out of line- Salah ucap. Umat Islam adalah umat pemaaf. To err is human, but to forgive is divine, katanya. Sebelum kondisi masyarakat bertambah kacau. Secara pribadi, saya berpendapat, yang paling baik adalah bila anda mempelajari Islam sebagai prinsip hidup, dan kemudian memeluknya.

Akhirnya, maafkan saya dengan segala keawaman saya berani untuk berpikir secara publik - keyakinan agama saya menuntut sesuatu yang seperti ini.

Allahu a'lam bisshawwab.

#tolakAhok

minor revision: 16 Okt. 2016

Sunday, December 27, 2015

Memahami Agama Islam


Tulisan ini bukan tentang "Apa" tetapi lebih tentang "Bagaimana." Karena, pandangan miring dari sebagian manusia di masa kini tentang agama Islam lebih banyak diakibatkan karena cara yang keliru dalam mempelajarinya.

Di bangku SMU dulu, saya diajari oleh Pak Don Hardjono bahwa manusia tidak akan dapat mengenal tuhannya bila Tuhan tidak memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Konsep seperti ini disebut sebagai revelatio. Manusia secara naluriah telah memiliki sebuah fitur built-in yang akan menuntunya mencari sosok Tuhan tersebut. Dalam bahasa Latin, sosok ini disebut sebagai Causa non Causata atau Causa Prima.

Penganut agama-agama langit pasti mempercayai kisah tentang Nabi Ibrahim (atau Musa?), ketika mencari sosok Dei, Tuhan - yaitu "Sesuatu" yang secara naluriah dikenal manusia sebagai super-being yang memiliki kekuasaan atas segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Kisah nyata tersebut, yang wajib dipercayai oleh para penganut agama-agama langit - menggambarkan bahwa bilamana manusia berusaha mencari tahu tentang "Sosok" tersebut maka mereka akan keliru. Sampai pada akhirnya Allah Azza wa Jalla memperkenalkan dirinya sebagai tuhan.

Keberadaan sekelompok manusia yang kita lihat memuja pohon, batu, gunung, matahari, dan bahkan sosok-sosok khayali lainnya adalah indikasi bahwa mereka salah dalam pencarian zat Tuhan yang berujung kepada kesalahan dalam mengidentifikasi dan mengimplementasikan serangkaian bentuk peribadatan. Sehingga mereka hidup dalam sebuah kekeliruan yang mendasar.

Keberadaan agama-agama samawi adalah fenomena bagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan kepada manusia segala sesuatu tentang Dia yang perlu diketahui oleh manusia, dan segala konsekwensinya.

Pencarian tentang zat Tuhan, tentang maksud diciptakannya alam semesta dan manusia bukanlah sebuah hal yang remeh. Namun kenyataannya, hal-hal penting tersebut dianggap sedemikian remehnya sehingga cukup menjadi sebuah fringe knowledge (pengetahuan pinggiran) yang asalkan pernah diberikan sudah memberikan legitiminasi cukup bagi manusia untuk menempuh kehidupan ini.

Di kelas 6 SD dulu, saya juga diajari oleh Ibu Digdo, bahwa salah satu cara penting manusia dalam memperoleh ilmu pengetahuan adalah mengandalkan berita, kisah, periwayatan dari manusia lain. Meskipun manusia juga bisa memperolehnya dari eksperimen, trial-and-error - namun kesemuanya pasti berdasarkan sebuah pengetahuan tertentu, baik yang tersusun dalam sebuah disiplin ilmu maupun pengetahuan yang telah meresap menjadi intuisi. Hal ini menunjukkan bahwa manusia terbatas oleh ruang dan waktu. Sesuatu yang terjadi pada suatu saat di belahan dunia lain tidak mungkin dapat diketahui oleh seorang manusia tanpa mengandalkan berita, kisah, cerita, atau laporan dari manusia lain yang mengalami kejadian tersebut secara langsung, atau mendapatkan berita tersebut dari sebuah rantai periwayatan (chain of narration) dari manusia-manusia lain.

Proses ini kita kenal sekarang dalam konteks penyusunan karya ilmiah. Bahwa tanggung jawab dalam sebuah penyusunan karya ilmiah terletak pada penyajian dari sumber mana kita mengambil sebuah argumen dasar atau pendukung. Kualitas sebuah karya ilmiah terletak pada derajat orisinalitas pemikiran, dan validitas reputasi sumber pengambilan argumen.

Ketika kita menyatakan bahwa sebuah benda dengan masa m akan mengalami percepatan a sesuai dengan gaya F yang bekerja, kita akan mengutip hukum Newton, dari Sir Isaac Newton. Reputasi ilmuwan ini sudah tidak diragukan; sang ilmuwan dan rumusnya sudah dikenal secara luas oleh mereka yang pernah mengenyam pendidikan dasar.

Kesemuanya ini sudah cukup jelas, bahkan bahwa untuk sesuatu yang duniawiah, yang sifatnya temporer - kita harus sangat berhati-hati dalam mengemukakan sebuah argumen. Apalagi untuk makna kehidupan manusia - sesuatu yang seharusnya bila dipikirkan sejenak dalam kemandirian menggunakan built-in feature yang kita miliki. Tetapi kenyataanya, banyak dari kita, masih mengandalkan sumber yang tidak dapat diandalkan dalam menggapai pengetahuan dan pemahaman yang seharusnya. Salah satu sumber yang tidak dapat diandalkan tersebut, adalah pemikiran dan logika kita.

Padalah, kita seharusnya tahu bahwa logika kita terbentuk dari rangkaian pengalaman dan pengetahuan masa lalu dengan segala keterbatasannya dan kerentanannya terhadap berbagai penyimpangan kognitif.

Dalam memahami Agama Islam, saya mengusulkan beberapa syarat dan serangkaian prosedur yang saya harapkan akan memberikan panduan bagi yang mengikutinya untuk sampai kepada pemahaman agama Islam yang benar.

Sebelumnya mungkin lebih baik kita berhenti sejenak dan bertanya: Yang manakah pemahaman tentang agama Islam yang benar? Untuk menjawab ini, kita mutlak perlu untuk memiliki keyakinan bahwa:

  1. Agama Islam adalah agama yang ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta'ala bagi manusia, yang rangkaian beritanya disampaikan dalam bentuk wahyu melalui malaikat Jibril Alayhis Salaam kepada Sang Pembawa Risalah, Nabi Muhammad Shalallahu 'alayhi wa Sallam.
  2. Agama Islam telah lengkap, sempurna, menjelaskan segala sesuatu tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala dan manusia sebagai mahluk ciptaan-Nya
  3. Rangkaian berita tersebut tersusun rapi dalam mushaf Al-Qur`an yang masyarakat umum kenali hari ini dan dijamin keasliannya oleh yang menetapkannya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala.
  4. Segala sesuatu tentang agama Islam, telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad Shalallahu 'alayhi wa Sallam kepada para penganut awal Islam, yaitu para sahabatnya; misalnya: Abu Bakar, Umar, Utsman, 'Aly, Abu Hurairah, Zaid bin Tsabit, Abud Dzar Al-Ghifari, Abdurrahman bin Auf, Az Zubair bin Al Awwam, dan sekitar 1500-orang lainnya.
  5. Para sahabat yang hidup bersama Nabi Muhammad Shalallahu 'alayhi wa Sallam mempelajari agama Islam langsung dari sumber yang memiliki legitiminasi dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka menghadiri berbagai "sesi perkuliahan" untuk mempelajari agama Islam, menghafal berbagai hal, berkesempatan untuk menguji pemahaman mereka, terkoreksi langsung oleh Nabi Muhammad Sholallahu 'alayhi wa Sallam bila pemahaman mereka keliru. Mereka mendapatkan keutamaan untuk menjadi saksi hidup melihat bagaimana agama Islam diperagakan secara live oleh Sang Nabi Shalallahu'alayhi wa Sallam - The Living Qur`an. Mereka mendapatkan ijazah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebuah ayat dalam Al-Qur`an yang terjemahan Departemen Agama-nya kira-kira "Kalian adalah umat terbaik dari keseluruhan manusia..." Mereka telah lulus dengan summa cum laude, dan memiliki license to practice. Pemahaman agama Islam para sahabat Nabi Shalallahu'alayhi wa Sallam adalah juga sumber rujukan agama Islam.
Dengan meyakini ke 5 hal di atas, maka yang harus kita tempuh adalah metodologi ilmiah biasa. Setiap keyakinan, setiap argumen, dan setiap tindakan kita harus bisa dirunut asalnya sampai ke Al-Qur`an, hadits Nabi Shalallahu'alayhi wa Sallam, dan yang agak kurang mendapat perhatian banyak orang - berdasarkan pemahaman para sahabat Radhiallahu Jami'an. Karena itu, menjadi sangat kritis bagi mereka yang ingin memahami Islam secara benar, untuk memperhatikan rantai riwayat (chain of narration) dari argumen apapun tentang agama Islam ini. Harus dari sumber-sumber yang memilki reputasi dan rangkaiannya sampai kepada Al-Qur`an dan Sunnah Nabi Shalallahu 'alayhi wa Sallam

Apakah ada dalam Al-Qur`an?
Apakah ada dalam As-Sunnah/Al-Hadits Nabi Shalallahu 'alayhi wa Sallam?
Apakah pemahaman para sahabat Nabi Shalallahu 'alayhi wa Sallam?

That's it!

Terkesan dogmatis? Ya, namun kenyataannya tidak lebih dogmatis daripada keyakinan seseorang tentang hukum mekanika fisik a=F/m, yang tidak akan kita tanyakan lagi untuk berbagai penerapan umum.

Sebagian akan bertanya: Bagaimana kalau ada argumen dalam agama Islam yang bertentangan dengan logika? Jawabnya, sebagaimana kita bisa menerima instruksi dalam sebuah buku panduan dari perusahaan pembuat kendaraan bermoto kita, bahwa kita harus melakukan penggantian minyak pelumas secara periodik, meskipun terkadang periodenya tidak bersesuaian dengan logika kita (karena kita jarang menggunakannya, atau karena masalah finansial sesaat). Dalam memahami agama Islam, rasio. logika, dan selera bukan alat utama. Kaidahnya: wahyu diatas rasio, logika, dan selera. Bilamana ada argumen tentang agama Islam yang bertentangan dengan rasio, logika, dan selera kita, maka asalkan kita sudah yakin bahwa rantai periwayatannya valid, maka hal itu sudah cukup. 

Bagaimanakah cara kita menguji validitas dari sebuah rantai periwayatan? Jaman sekarang sudah cukup banyak sumber yang dapat diandalkan untuk memberikan jawaban tersebut. Disini mungkin peran rasio dan logika menjadi penting. Secara logis, sebelum kita mempercayai argumen apapun dari sang sumber, kita akan menguji apakah sumber tersebut memiliki kredibilitas dan kompetensi. Kemudian, kita berhak mempertanyakan, darimana sang sumber mengambil basis argumennya tersebut - sebagai bahan untuk mengujinya kembali melalui metodologi second-opinion.

The good news is, bahwa cara memahami agama Islam relatif mudah - tinggal mengambil dari sumber yang valid dan kredibel. Tidak membutuhkan seorang jenius untuk bisa menjalankan Islam secara benar dalam kehidupannya, sehingga seseorang dapat berharap untuk mendapatkan sebuah akibat yang menyenangkan: hidup dalam keabadian di surga. Peralatan (tools) dan techniques untuk menggapai pemahaman yang benar sudah cukup banyak tersedia dan telah mengalami evolusi kearah kesempurnaan selama 1.500-tahun. Berita yang agak berat adalah, bahwa karena Islam telah lengkap diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mengatur segala aspek kehidupan yang jumlahnya sangat banyak; diperlukan sebuah sikap disiplin dalam mempelajarinya, karena agama Islam adalah sebuah body of knowledge, sebuah disiplin ilmu pengetahuan yang lengkap sempurna. 

Namun ada berita yang tidak menyenangkan, ada mahluk yang namanya Iblis yang tidak senang dengan kesudahan baik manusia. Ia dan para karyawannya, dari kaum jin dan manusia yang mengikutinya akan senantiasa berusaha untuk menggagalkan manusia meraih kesudahan yang baik itu - mereka ingin manusia menemani mereka menghuni sebuah tempat yang disebut neraka. Namun begitu, ada berbagai metodologi untuk menangkal usaha Iblis dan para karyawannya itu dalam agama Islam yang telah lengkap sempurna ini.

It's easier said, than done.

Akhirnya, sekali lagi tulisan ini bukan tentang apa yang harus dipelajari, namun tentang bagaimana mempelajari dan memahami agama Islam dengan benar. Yaitu dengan mempelajari Al-Qur`an, As-Sunnah, dan pemahaman para sahabat Nabi Shalallahu 'alayhi wa Sallam - dengan memperhatikan rantai periwayatan yang kredibel.

Okay...okay, anggaplah saya salah, ngelantur, dan segala atribut yang senada. Namun tolong pikirkan dengan saksama: kita cuma punya satu kesempatan untuk menjalani kehidupan ini, sampai suatu saat yang kita tidak tahu kapan - kita akan mati. Selalu ada kemungkinan 50:50 bahwa anda yang salah. Sekali lagi tolong dipikirkan dengan saksama.  Better safe than sorry, kan? 


Allahu'alam.

Saturday, July 25, 2015

Antara Piagam Jakarta dan Pancasila - Sebuah Pengorbanan Umat Islam untuk Bangsa Indonesia


Bismillah,
Alhamdulillahi Rabbil 'alamiin,
Ashalatu was Salamu 'ala Muhammad,
amma ba'd.

A flash of memory. Bagi beberapa orang yang mendengarkan siaran radio apapun di jaman orde baru, mungkin masih ingat sebuah acara radio yang direlai oleh semua stasiun radio di Nusantara setelah berita pagi jam 7, yaitu "Forum Negara Pancasila" dengan pembawa acaranya Bapak Tedjo Soemarto, SH (mohon koreksi kalau keliru). Suatu ketika, mungkin pada tahun 1996, ada sebuah topik yang menarik yang beliau bawakan, yaitu mengenai alinea ke-3 Undang-undang Dasar negeri kita yang berbunyi:
"Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa..."
Mudah2an ingatan saya masih cukup bisa diandalkan. Secara makna, saat itu beliau menjelaskan cara menyebut kata "Allah"  adalah dengan lafal sebagaimana sebutan "Allah" oleh umat Islam. Dasarnya, menurut beliau, karena (secara makna) begitulah yang teks tersebut dibaca ketika dikukuhkan sebagai (alinea ke-3) Undang Undang Dasar 1945. Makna yang saya tangkap adalah peran umat Islam dengan wakil-wakil mereka dalam jajaran para founding fathers bangsa ini.

Mengingat tentang sejarah Pancasila kala di SD dulu, guru dan wali kelas saya di kelas 6,  Ibu Digdo - menceritakan bahwa sehari sebelum Proklamasi kemerdekaan, terjadi diskusi di antara para wakil rakyat tentang teks dasar negara. Keputusannya adalah mengubah teks Piagam Jakarta tanggal 22 (ternyata 21 menurut sumber utama tulisan ini) Juni 1945, menjadi seperti Pancasila yang kita kenal sekarang ini,  Landasan perubahan ini adalah karena beberapa wakil dari wilayah Timur Indonesia berkeberatan bilamana sila pertama mengandung kata "...dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya."
Kompromi politik dalam bentuk Piagam Jakarta rupanya hanya mampu bertahan selama 57 hari, ini dikarenakan pengiring redaksi sila pertama yang mewajibkan umat Islam menjalankan Syari‘at Isla>m dirasakan oleh kawasan Timur Indonesia sebagai sikap diskriminatif terhadap pemeluk agama lain.[28] Maka demi persatuan bangsa akhirnya para pemimpin politik Islam terpaksa menelan kekecewaan cita-cita politiknya pada 18 Agustus 1945 dengan menghilangkan anak kalimat tersebut dari pembukaan UUD 1945.[Saoki, 2014]
Para founding fathers dari kalangan Islam, pada saat itu ternyata memilih segera berdirinya sebuah negara merdeka dibandingkan dengan kepentingan yang paling besar, yaitu meletakkan syari'ah Islam sebagai landasan negara.
Tampaknya KH. A. Wahid Hasyim berpikir jangka panjang dalam persetujuannya menghapus tujuh kata itu pada 18 Agustus 1945. Saat itu kondisinya demikian genting dan tidak menentu. Masa revolusi bukanlah saat yang tepat bagi para nasionalis Islami untuk mendesak terlaksananya cita-cita Islami mereka. Bagi mereka, mempertahankan kemerdekaan Indonesia harus didahulukan. Pandangan seperti ini antara lain tersimpul dalam pidato Kasman Singodimejo dalam konstituante yang mengutarakan mengapa kelompok Islami tidak mengajukan protes ketika ketentuan Islami dihilangkan dari Piagam Jakarta pada 18 Agustus 1945. [Saoki, 2014]
Pernah dalam sebuah diskusi santai, saya mendengar kritik tentang sikap para founding fathers dari kalangan Islam tersebut tentang perubahan dasar negara, dan saya setuju. Namun sekarang setelah membaca naskah tersebut, suka-tidak suka, setuju-tidak setuju, sepatutnya kita husnuzhan, karena beberapa alasan:
  • mereka adalah para ulamaa dan itulah ijtihad mereka,
  • posisi mereka saat itu sebagai penghulu urusan kita (ulil 'amr), karena itu kita patut menghormati dan patuh, selama mereka tidak memerintahkan kita untuk berbuat maksiat.
  • jasa mereka telah nyata dengan berjuang untuk tegaknya negeri tercinta ini - sejarah formal telah mencatat ini,
  • mereka ada di sana pada peristiwa tersebut, dan kita tidak.
Fakta sejarah otentik membuktikan bahwa para wakil umat Islam Indonesia saat itu, sebut saja beberapa nama yang terkenal seperti KH Wahid Hasyim, Kasman Singodimedjo, Kahar Muzakkir dan yang lain, yang telah mengorbankan suatu kesempatan untuk mendirikan negara berdasarkan agama Islam, demi sebuah kepentingan bersama yakni berdirinya sebuah bangsa Indonesia setelah revolusi. Kenegarawanan mereka patut menjadi tauladan, dengan tidak walk-out atau melakukan makar. Mereka memahami arti sabar menurut Syari'ah dan menjalankannya! Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni dosa2 mereka, melapangkan kubur mereka, dan membalas jasa baik mereka.

Memandang fenomena yang berkembang saat ini, ada sebersit kuat kekhawatiran dalam hati saya. Negeri ini tidak butuh konflik horizontal, kalau ingin mencapai cita-cita bangsa sebagaimana yang telah ditetapkan oleh para founding fathers negeri ini dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945,  Karena itu, please have some respect kepada umat Islam, jangan stigmatisasi kami sebagai teroris, fundamentalis... Beberapa sampel peragaan buruk yang selama ini terlihat, bukan representasi dari ajaran agama ini. Patut disimak kutipan kata-kata dalam sumber di atas dari mantan menteri agama era Presiden Sukarno, Saifuddin Zuhri:

“Yang harus dijaga, jangan sampai umat Islam tidak memperoleh hak-hak mereka secara politis. Jika perang sudah usai, jika fase perjuangan mati hidup sudah dilewati, tentu orang mulai mengisi kemerdekaan dengan usaha-usaha membangun bangsa dan negara. Moga-moga saja saham umat Islam di masa paling sulit itu tidak dilupakan…” [Saoki, 2014]
Namun di sisi lain, untuk segolongan masyarakat yang berpendapat bahwa tegaknya sebuah negara berlandaskan Islam dapat terwujud dengan provokasi, teror dan makar; harap diingat, bahwa sebuah tujuan mulia tidak akan dapat tercapai melalui maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala; yaitu dengan menjatuhkan wibawa dan kehormatan pemimpin kaum Muslimin, memahami perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan pemahaman sendiri - bukannya pemahaman orang-orang mulia yang mengaji langsung pada Sang Pembawa Risalah SalAllahu 'alayhi wa Sallam, serta menghalalkan tumpahnya darah seorang Muslimin dengan dalih "collateral damage". Tolong jangan ikut berkontribusi untuk menambah beban ummat Islam, khususnya di negeri tercinta Indonesia Raya.

Allahu'alam.


Tulisan ini bersumber dari tulisan di laman UIN Sunan Ampel - Fakultas Syari'ah dan Hukum, Surabaya:

"ISLAM SEBAGAI DASAR NEGARA (PERDEBATAN DALAM PPKI DAN KONSTITUANTE)"

Oleh: Saoki, bertanggal 7 Januari 2014.
http://fish.uinsby.ac.id/?p=1764 diakses tanggal 25 Juli 2015 jam 21:01

SubhanaKa Allahumma wa bi hamdiKa asyhaduanla ilaha anta astaghfiruka wa atubu 'ilayk.

minor update 30 Jan 2016
minor update 24 Jul 2016
minor update 9 Oct 2016




Thursday, July 23, 2015

Trauma Revolusi

http://kbbi.web.id/revolusi

(Jangan salah. Tulisan ini adalah tentang Revolusi terhadap pemerintahan yang sedang berjalan. Saya bukan antek penjajah.)

Memperdengarkan kata revolusi terdengar gagah. Memunculkan idenya terlihat berani. Citra tokoh-tokoh revolusioner seperti Castro, Che Guevara, Stalin, dan akhir-akhir ini adalah Abdel Fatah el-Sisi  - mengokohkan imaji tokoh revolusioner yang penuh keberanian dan sarat nuansa kepahlawanan.

Ide untuk mendongkel rejim yang lalim memang tercitrakan penuh romantisme kepahlawanan. Tapi itu cuma di film. Perubahan pemerintahan dengan kekuatan masa atau militer memiliki ciri khas sesuai namanya revolusi yang artinya perputaran.  Prosesnya penuh dengan konflik, sering fisik, dan akibatnya darah mengalir, jiwa melayang, dan rusaknya kehormatan dan harta manusia. Yang tadinya tertindas akan menjadi rejim penguasa baru, yang lambat-laun akan menindas juga.

“Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely... ” -  Lord John Acton (1834-1902)

Revolusi sangat erat dengan kerusakan harta, cipratan dan genangan darah dan hilangnya nyawa manusia. Balas dendam tak terelakkan. Di negeri Indonesia Raya saja telah terjadi pertumpahan darah yang begitu mengerikannya, revolusi sosial Sumatera Timur, DI/TII, pemberontakan PKI 48 dan 65.

Masih teringat di akhir 80-an dalam keheningan lingkungan kampus sering terdengar orasi mencela betapa korupnya pemerintahan saat itu. Saya termasuk yang ikut-ikutan. Salah seorang sahabat saya dengan ringan mencela saya, "Lo gak kebagian ajeh makanye triak-triak. Coba aja kalo dapet (bagian, tenang bener lo!"

Akhirnya, setelah tidak jadi mahasiswa lagi, terjadi peristiwa reformasi 98. Biarpun tidak terlibat langsung dan mengalami dampak langsung ke saya, namun telah menorehkan trauma yang cukup dalam. Ketika saya melihat sendiri penjarahan di Bekasi dan Depok. Berita tentang pembakaran beberapa pusat perbelanjaan, yang memakan korban jiwa cukup banyak dan isu perkosaan. Kondisi nir-penegakan hukum yang digambarkan oleh media dengan foto seorang polisi yang dianiaya di simpang Pasar Senen. Ketakutan mencekam ketika jaga malam bersama dengan para tetangga kompleks setelah mendengar desas-desus bertebarannya metro-mini dan kopaja yang berisi para provokator.

Tapi ironinya tidak cukup tertangkap oleh mereka yang masih berjaket almamater di bawah kibaran panji-panji dan pekaknya yel-yel reformasi. Belum lagi para artis yang mendadak ingin jadi Joan of Arc tanpa ingin dibakar hidup-hidup. Mereka adalah pejuang reformasi.

Kita tidak boleh berandai-andai. Yang sudah terjadi biarlah dicatat dengan jujur menjadi sebuah noda hitam sejarah. Untuk dipelajari dan diambil hikmahnya - supaya tidak terjadi lagi dan tidak terjadi yang baru yang lebih parah. Le, piye kabare? Enak jamanku to, Le?

Revolusi pasti didahului dengan proses penindasan yang menahun, kemudian provokasi dalam bentuk ide-ide revolusioner dalam bentuk orasi, presentasi dramatis, dan pesan berantai dari beberapa komponen inti penggagas revolusi kepada para simpatisannya. Tujuannya membangun motivasi yang kuat. Kalau revolusi berhasil biasanya mereka menjadi pemimpin, atau "berbagi kursi" - kalau gagal mereka disebut provokator dan pengkhianat. Sang lemah menantang sang kuat. Pahlawan melawan Penindas. Tapi mana pahlawan mana penindas? Dari pihak pemenang yang masih hidup akan disebut tokoh dan yang mati disebut pahlawan, Yang kalah disebut pengkhianat. Akan halnya pengkhianat yang mati, baik setelah melalui suatu proses judisial maupun melalui penghakiman dan eksekusi oleh massa, biasanya berakhir di kuburan masal dan menjadi mitos rakyat. Revolusi adalah ajang konflik kekuatan dan kepentingan.

Coba lihat negara tetangga kita yang paling baru. Tokoh-tokoh penggerak revolusi di negeri mereka dulu dicap pengkhianat, gerombolan pengacau keamanan, dan segala stigma lainnya. Tapi sekarang, mereka adalah tamu negara yang terhormat. Ironinya sangat dirasa terutama oleh para veteran Seroja. Mereka juga manusia. Itulah harga menghadapi sebuah revolusi.

Revolusi yang berhasil biasanya dipasang dalam bentuk propaganda kemenangan rakyat atau suatu ide revolusioner tertentu lengkap dengan sosok pemimpinnya. Yang tidak senang akan disebut kontra-revolusioner, dan cap pengkhianat dengan mudah akan disematkan, dengan resiko mati atau dibui tanpa proses dan kepastian hukum. Namanya juga kondisi darurat, biasanya yang berlaku adalah undang-undang darurat.

Keberhasilan sebuah revolusi akan menjadi sebuah titik awal suatu bangsa untuk berubah dari suatu keadaan ke keadaan yang lain. Romantismenya adalah dari keadaan yang buruk ke keadaan yang baik. Tapi kenyataannya sebenarnya biasanya terletak tidak jauh dari kulitnya. Bilamana ada penyebaran statistik pada kurva distribusi normal untuk rasio kondisi pra dan paska revolusi, mungkin (asumsi) lebih banyak buruknya.

Revolusi mungkin berhasil, tujuannya tercapai. Tapi pernahkah ada yang menghitung biayanya? Baik secara moneter maupun yang abstrak. Seperti, misalnya apakah masyarakat lebih bahagia sebelum revolusi atau setelah revolusi. Berapakah biaya sosial yang telah menguap selama revolusi? Berapakah harga lepasnya 1-jiwa dari badan manusia, karena akibat konflik yang terjadi. Berapakah harga kehormatan 1-manusia yang terhinakan, terfitnah, dan ternodai? Apakah itu semua investasi yang layak? Berapakah ROIC-nya?

Sekarang di abad 21, sebut saja saya pencinta status-quo. Saya lebih memilih kejumudan dibandingkan disintegrasi bangsa, kerusakan harta, darah dan kehormatan manusia. Biarpun Mungkin saya masih merasa belum juga kebagian.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menolong Republik tercinta ini dari kehancuran.
Allahu 'alam


Monday, June 29, 2015

Jepang Telah Mendarat

Huawei mungkin merupakan pemasok terbesar sistem dan perangkat telekomunikasi di Indonesia - dari hulu ke hilir. Dari perangkat radio BTS sampai ke gawai di tangan para pelanggan operator seluler.

Pada tahun 2010 saya menuliskan sebuah memoir kunjungan saya ke kantor Sang Kipas Merah - Huawei, di ShenZen. Tulisan itu saya tutup dengan kata "Betapa naif-nya saya." Lima tahun telah berlalu, dan saya masih menanti kenaifan saya untuk berwujud. Karena, bila kita menilik beberapa laporan keuangan 2-3 tahun belakangan dari beberapa perusahaan operator seluler utama di Indonesia, kita akan melihat Huawei merupakan kontraktor besar mereka, dan bukan tidak mungkin akan menjadi yang terbesar di tahun ini. Dengan posisi seperti ini, secara menyeluruh, Huawei mungkin merupakan pemasok terbesar sistem dan perangkat telekomunikasi di Indonesia - dari hulu ke hilir. Dari perangkat radio BTS sampai ke gawai di tangan para pelanggan operator seluler.

Sebagai kilas latar belakang sejarah tentang Si Kipas Merah, sebagaimana saya sarikan dalam memoir saya, yang saya sarikan dari sebuah artikel di majalah Tempo edisi 4-10 Oktober 2010:
Huawei didirikan oleh Ren Zhengfei, seorang kolonel pensiunan Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok. Dikatakan di situ bahwa Huawei telah melakukan metamorphosis luar biasa dalam dua dasawarsa. Dari sekedar agen penjualan perangkat PBX (private branch exchange) di Hong Kong  menjadi sebuah raksasa perusahaan teknologi tinggi di bidang produksi dan pemasaran peralatan jaringan telekomunikasi garda depan. Penjualan Huawei melesat naik dari sekedar USD 100-juta pada tahun 2000 menjadi USD 21,8-miliar pada akhir 2009 [pertumbuhan lebih dari 80% per-tahun]. Hadir di 100 negara dengan 95.000 karyawan yang 48%-nya bekerja di pusat riset dan pengembangan. Mereka umumnya para pemuda berusia 29-tahun dan 70%-nya adalah insinyur yang telah meraih gelar master, bahkan doktor. Majalah Time beberapa tahun yang lalu menjuluki Zhengfei sebagai Mao Zhe Dong di dunia bisnis Tiongkok. Dia disebut menerapkan strategi perang Mao, desa mengepung kota (ingat, dia militer).
Mungkin sekedar paranoid saya, tapi keberadaan Huawei sebagai pemasok jaringan terbesar mungkin membutuhkan tinjauan para pakar yang berkompeten, terhadap kondisi strategis pertahanan dan keamanan negeri kita tercinta. Sebuah artikel di majalah  Fortune  melukiskan kekhawatiran pada skala nasional di Amerika Serikat akan kiprah ekspansif Huawei. Mungkin lebih mirip seperti naskah teori konspirasi, mungkin juga sebuah wujud penilaian yang tidak adil - namun sebelum jatuh vonis, sangat penting untuk melakukan tinjauan secara strategis dari sisi pandang hankamrata oleh yang berkompeten. Karena, porsi kegiatan komunikasi masyarakat negeri ini yang tidak dilakukan melalui perangkat dan teknologi perusahaan tersebut mungkin sangat kecil dan akan makin kecil.

Pertumbuhan dari keberadaan perangkat perusahaan ini di beberapa titik strategis jaringan telekomunikasi nasional perlu dipertimbangkan - bukan hanya dari sisi cyber-security, namun juga dari aspek strategi bisnis. Keputusan yang diambil para eksekutif puncak perusahaan operator seluler pada satu saat mungkin tepat untuk menurunkan daya tawar perusahaan serupa dari Eropa dan Amerika Serikat - namun, keputusan-keputusan selanjutnya - meski nampak baik di buku finansial para operator tersebut, mungkin bukan sesuatu yang tepat secara strategis karena sadar atau tidak, suatu aspek keunggulan strategis yang disebut sebagai keekonomian cakupan (economies of scope) telah dapat dicapai oleh perusahaan ini. Bilamana kondisi seperti ini tetap berlanjut, maka mungkin pada suatu saat akan memicu suatu gugatan anti monopoli dari otoritas negeri ini - namun mungkin juga tidak, sampai suatu saat akan menjadi sebuah penyesalan berskala nasional.

Keunggulan Huawei salah satunya adalah kemampuan teknologi produk mereka yang merupakan paduan buah pemikiran para pemasar dan teknokrat ulung dengan sangat memahami kebutuhan para pelanggannya. Meski begitu, keunggulan ini sebenarnya hanya marjinal bilamana dibandingkan dengan para perusahaan pesaing dari Eropa dan Amerika Serikat.  Namun Huawei memiliki model bisnis yang memuat proposisi nilai yang merupakan gabungan teknologi tinggi dengan paket finansial yang menarik sebagai senjata pamungkas. Akibatnya, dominasi Huawei di jejaring telekomunikasi nasional - suatu fakta yang mungkin tidak disadari oleh masyarakat awam yang sedang menikmati perkembangan teknologi penjelajahan dunia maya nir-kabel.

Teori konspirasinya adalah sebagai berikut (semoga tidak pernah terjadi):
Bayangkan suatu hari terjadi suatu fenomena masal dimana semua orang di Jabodetabek tidak dapat menggunakan ponsel dan gawainya untuk menelpon, sms, maupun berselancar apalagi mengkinikan status, karena layanan jaringan tidak ada (sesuatu yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu pada layanan dari salah satu dari 3-besar operator seluler) . Sebelum kekesalan dan keresahan para pelanggan meledak, dalam waktu 1-2 jam, jaringan sudah pulih kembali - problem solved! Namun pada saat yang sama penduduk jabodetabek berangsur mulai menyadari keberadaan suatu pemandangan yang asing: penampakan banyak sosok kendaraan  taktis dan personil berpakaian taktis militer lengkap dengan perangkat serbu yang tidak kita kenal. Dan saat itu terdengar teriakan yang (mungkin) kita kenal selama ini sebagai anekdot:
 "Bu.. bu.. jepang sudah mendarat!"
Ternyata kapal laut pengangkut personil dan alat tempur mereka benar-benar telah mendarat di taman impian jaya ancol di siang hari bolong, pasukan penerjun payung telah menduduki daerah medan merdeka. dan mulai menduduki tempat-tempat strategis lain di Jabodetabek dalam waktu kurang dari 2-jam. Kok bisa? Hanya dengan sesaat melumpuhkan jaringan telekomunikasi nasional yang memang berasal dari mereka dan dalam kendali jarak jauh mereka. Tidak ada tweet, atau pengkinian status, atau berita live - karena hanya sejenak semua moda komunikasi moderen dalam status off-line.
Tapi ini kan teori konspirasi dari seorang yang mengaku pengusaha yang resah dengki karena gagal menjalin bisnis yang menguntungkan dengan raksasa telekomunikasi tersebut.

Maafkan saya, ini bukan kisah tentang Jepang.

- revisi minor 26 Juli 2015

Sunday, December 14, 2014

Managing Oneself

From HBR Essentials - Idea in Practice for Drucker's "Managing Oneself"


To build a life of excellence, begin by asking yourself these questions: “What are my strengths?” To accurately identify your strengths, use feedback analysis.

Every time you make a key decision, write down the outcome you expect. Several months later, compare the actual results with your expected results. Look for patterns in what you’re seeing: What results are you skilled at generating? What abilities do you need to enhance in order to get the results you want? What unproductive habits are preventing you from creating the outcomes you desire?

In identifying opportunities for improvement, don’t waste timecultivating skill areas where you have little competence. Instead, concentrate on—and build on—your strengths.

“How do I work?”
In what ways do you work best? Do you process information most effectively by reading it, or by hearing others discuss it? Do you accomplish the most by working with other people, or by working alone? Do you perform best while making decisions, or while advising others on key matters? Are you in top form when things get stressful, or do you function optimally in a highly predictable environment?

“What are my values?”
What are your ethics? What do you see as your most important responsibilities for living a worthy, ethical life? Do your organization’s ethics resonate with your own values? If not, your career will likely be marked by frustration and poor performance.

“Where do I belong?”
Consider your strengths, preferred work style, and values. Based on these qualities, in what kind of
work environment would you fit in best? Find the perfect fit, and you’ll transform yourself from a merely acceptable employee into a star performer.

“What can I contribute?”
In earlier eras, companies told businesspeople what their contribution should be. Today, you have choices. To decide how you can best enhance your organization’s performance, first ask what the situation requires. Based on your strengths, work style, and values, how might you make the greatest contribution to your organization’s efforts?