Tuesday, September 3, 2013

Kenapa Orang Islam Harus Kaya?

Latar Belakang

Lingkungan saya adalah lingkungan yang sarat dengan distorsi materialisme dan hedonisme. Kecenderungan bermegah-megahan dalam berbagai hal, telah  memasuki tahap yang berbahaya. Yang mengerikan adalah kecenderungan materialisme dan hedonisme tersebut dibungkus dengan kemasan Islam. Yang dimanifestasikan dengan pertanyaan sinis: "Apakah orang Islam tidak boleh kaya?". Dan sering dijawab "Boleh.", "Bahkan harus kaya.", "Tidak ada larangan untuk orang Islam menjadi kaya", dan berbagai pola tanya-jawab lain yang berkisar pada fokus materi duniawi.

Tujuan Penulisan

Saya mengetengahkan isu ini sebagai monolog dalam proses usaha mencari jawaban yang absolut terhadap tujuan kehidupan yang sangat singkat ini dan cara menjalaninya dengan benar. Supaya, di kehidupan selanjutnya yang abadi, saya tidak menerima konsekwensi yang buruk dari akibat keliru memahami hakikat kehidupan dan perjalanannya. Karenanya subyektifitas saya akan sangat nyata dalam tulisan ini.

Masalah

Saya mulai tulisan ini dengan menyatakan bahwa bagi saya istilah "Kaya", adalah suatu kondisi. Kondisi yang berada di luar kekuasaan manusia. Meskipun secara kausalitas, banyak orang percaya bahwa ada korelasi antara usaha dan hasil. Namun prinsip saya adalah bahwa tiada daya dan upaya kecuali hanya dari Allah Azza wa Jalla, dan segala sesuatu telah dituliskan takdirnya.

Indikasi dari masalah tercermin pada konsep yang populer dalam peradaban manusia sekarang ini, kesejahteraan suatu bangsa dikuantifikasi dengan angka GDP (gross domestic product) yakni angka rata-rata pendapatan perorangan dalam suatu negeri, yang mengarah kepada indeks kemampuan beli masyarakat (konsumerisme) negeri tersebut. Hal ini adalah salah satu akidah dari faham kapitalisme dan materialisme. Bahwa manusia akan makin sejahtera, dus bahagia bilamana memiliki kemampuan beli, atau kaya. Padahal, yang dituju sebenarnya adalah kesejahteraan suatu bangsa, namun entah dimana dalam prosesnya, GDP yang seharusnya hanya sekedar indikator kuantitatif pendapatan, menjadi obyektif. 

Kaum Muslimin dijejali dengan suatu dalil materialisme-kapitalisme yang populer dan telah mengkristal, adalah bahwa barangsiapa yang berusaha, secara otomatis, akan mendapatkan hasil. Manusia dipaksa menjadi alat produksi sekaligus konsumen dari produk-produk materialistis. 

Hal ini,  adalah suatu perangkap pola pikir (syubhat). Entah bagaimana, telah terabaikan bahwa kita sebagai ciptaan dan hamba Allah hanya wajib berusaha, sedangkan hasil adalah urusan Nya.  Dan sedihnya, umat Islam sedikit demi sedikit, sadar maupun tidak, telah terseret kedalam lubang gelap materialisme-kapitalisme.

Jadi sekali lagi saya tanyakan kepada diri saya: "Bolehkah kita kaya?" jawabnya "Boleh.". Namun saya susul dengan pertanyaan berikutnya "Lantas, buat apa kita kaya?". Jawabannya adalah:  "Yaaa, biar enak, gitu loh - emang miskin enak? Sumpek, tauk!". Atau, bisa juga dijawab dengan elegan bahwa "Dengan kekayaan kita bisa banyak beramal.".

Pertanyaan saya selanjutnya, "Bagaimana caranya (untuk menjadi kaya)?". Dan saya sedang memikirkan bahwa pertanyaan ini sebetulnya merupakan pertanyaan yang tidak pada tempatnya. Dimana pertanyaan ini adalah perangkap pola pikir materialistis yang mengakibatkan bangkitnya kecintaan akan dunia. Bagaimana tidak pada tempatnya? Sedangkan tujuan penciptaan kita sebagai manusia adalah untuk beribadah mengabdi pada Allah. Artinya, tunduk patuh terhadap perintahNya, dan menjaga diri untuk tidak melakukan apapun yang bisa membuatNya murka. Hal ini harusnya sebagai titik pusat perhatian kita. Bukannya bagaimana menjadi kaya.

Perangkap pola pikir lainnya adalah "bagaimana kita dapat memenuhi rukun Islam yang ke-5 bilamana kita tidak kaya?". "Apakah membangun masjid, sekolah, dan pengurusan fakir-miskin tidak membutuhkan dukungan harta?".

Analisa

Kiranya bilamana dipikirkan secara jernih, bahwa bukannya kekayaan yang akan mendorong kita untuk menunaikan rukun Islam yang ke-5, membangun masjid dan sekolah, mengurusi fakir-miskin; atau ber-amal saleh pada umumnya. Namun pendorong kita beramal adalah keimanan yang teguh, dan ketaqwaan yang prima. Sedangkan harta sebagai salah satu bentuk rizqi adalah sebagai alat. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang akan memberikannya bagi hamba-hambanya yang bertaqwa, Namun tanpa ketaqwaan, bahkan kekayaan akan bisa menjadi ujian bagi pemegangnya.Dan akhirnya jadilah pemegangnya menjadi budak kekayaan itu. Ingatlah akan sabda Nabi Salallahu 'alayhi wa Sallam tentang "Hamba dinar dan dirham".

Soal menjadi kaya (atau miskin), sudah ditentukan ketika umur kita sebagai janin mencapai 100-hari . Yang harusnya kita lakukan adalah  mengabdi kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan sekedar mencari nafkah untuk menunjang kehidupan kita, sebagai wujud pengabdian atau ibadah, karena kita diperintahkan sebagaimana dalam Al-Quran, surat Adz-Dzariyat ayat 56, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin adalah untuk beribadah kepada Nya.

Selanjutanya, perlu juga ditelaah, sebenarnya kenapa kita membahas tentang boleh tidaknya "orang Islam menjadi kaya". Apakah kita memiliki kemampuan menjadikan diri kita kaya? Seperti Karun yang merasa dirinya menjadi kaya karena ilmu yang dimilikinya. Lebih dalam lagi, kenapa harus diberi atribut "orang Islam". Kenapa tidak secara jujur saja cukup dengan pernyataan "Saya Ingin Kaya".

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan? (Huud, 15-16)

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang [duniawi], maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik. (Al-Israa, 18-19)

Lantas, bagaimana dengan ayat al-Qur-an berikut ini?
 ”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari [kenikmatan] duniawi....” [Al Qashash:77]
Meskipun harus dipelajari lebih lanjut tafsir ayat ini, tetapi dari terjemahannya, jelas tidak ada larangan atau celaan bagi seorang muslim untuk menikmati dunia ini. Namun, dengan tetap mematuhi perintahNya dan menjauhi larangannya (= taqwa) . Namun ada penafsiran bahwa yang dimaksud dari hal duniawi dalam ayat tersebut adalah persiapan kita untuk kain kafan.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Sholallahu 'alayhi wa Sallam menunjukkan bahwa seseorang seharusnya menyikapi kehidupan dunia seolah seorang musafir yang sedang berteduh, atau menyeberangi jalan (atau sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu'alayhi wa sallam). Secara komparatif aktifitas berteduh dan menyeberangi jalan  dalam rangkaian aktifitas perjalanan musafir adalah sangat kecil.

Kerancuan berpikir (Syubhat) lainnya yang berkembang di kalangan kaum Muslimin adalah bahwa kondisi umat sekarang ini adalah dalam keadaan keterpurukan dan ini membutuhkan peran kaum muslimin dalam bidang ekonomi dan politik. Konsep strategi ini diluncurkan supaya kaum Muslimin menguasai perekonomian dan politik. Namun yang kerap diabaikan bahwa pemikiran atau konsep seperti ini adalah kerancuan berpikir yang terwarnai oleh konsep kapitalisme dalam bidang ekonomi dan demokrasi dalam bidang politik. Ini bukan dari Islam.

Dalam al-Qur-an, Allah Azza wa Jalla menyatakan akan memberikan kekuasaan di muka bumi ini bilamana kita beriman dan bertaqwa (QS .... ayat .....). Selain itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menyatakan apabila penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, maka Allah akan turunkan keberkahan dari langit dan bumi (Al-A'raf, 96). Jadi, dengan beriman dan bertaqwa, kekuasaan dan keberkahan akan diperoleh.

Perlu diperhatikan bahwa kata kunci pada ayat yang disebut paling akhir, adalah istilah "keberkahan". Sesuatu yang banyak dilupakan oleh kaum Muslimin. Keberkahan adalah pertambahan. Bahkan suatu ungkapan menyebutkan bahwa keberkahan adalah meskipun bila sebulir gandum seharga satu dinar (4,25 gr emas), kita tetap makan gandum sampai kenyang. Inilah daya beli yang sebenarnya, dan keberkahan adalah dari Allah Azza wa Jalla.

Sehingga (perlu diperiksa silang dengan penafsiran yang sahih dari para ulama), kalau kaum Muslimin di negeri Indonesia menghendaki kejayaan, gemah ripah loh jinawi, maka kriteria iman dan taqwa harus dipenuhi. Pertanyaannya adalah, apakah kaum Muslimin telah benar-benar memahami arti "iman" dan "taqwa" secara benar, sebagaimana yang dimaksudkan oleh Allah dan Rasul-Nya?

Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak pernah ingkar janji!

Hal di atas adalah fenomena yang merupakan indikasi dari pemahaman (sebagian, besar) umat Islam yang keliru tentang konsep kehidupan dan serba-serbinya. Agama Islam telah lengkap sempurna disampaikan kepada manusia. Namun (sebagian) kaum Muslimin bersikap taken for granted terhadap agamanya sendiri. Bahkan, tidak merasakan adanya kebutuhan yang penting untuk mempelajari agama ini secara benar, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah kepada umat terbaik. Malah terpana dan latah mencampur-adukkan agama yang sempurna ini dengan filosofi materialisme dan perilaku kapitalisme. Padahal dalam agama yang sempurna ini, semua telah Allah Subhanahu wa Ta'ala sampaikan melalui Rasulnya yang mulia, 'Alayhi Shalatu wa Sallam - apa-apa yang mendekatkan manusia ke surga dan yang menjauhkan dari neraka. Karenanya, harta atau kekayaan yang harusnya menjadi alat dalam mengabdi, berevolusi menjadi tujuan, dan tujuan (Islam = selamat) terreduksi menjadi sekedar atribut - dan akibatnya keberkahan tidak pernah terwujud.

Penutup

Akhirnya saya tutup tulisan ini dengan menyimpulkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak pernah memerintahkan orang Islam untuk menjadi kaya. Yang ada adalah perintah Taqwa. 

Judul tulisan ini sendiri adalah suatu kesalahan. Kesalahan yang diakibatkan oleh sikap taken for granted umat Islam terhadap agamanya sendiri dicampur dengan bumbu hawa nafsu (desire, lust...etc.), yang berujung pada kerancuan dalam mengadopsi pola pikir (syubhat) . Dalam Islam, manusia dan jin diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk beribadah dengan benar kepada-Nya. Tanpa embel-embel pertanyaan sebagaimana judul tulisan ini. Bilamana dalam perjalanan hidup seorang Muslimin ternyata dikaruniai Allah kekayaan, dia wajib bersyukur dalam arti yang benar. Dan untuk yang tertuliskan takdirnya mengalami ujian kesempitan harta, harus bersabar, juga dalam arti yang benar, menurut Allah dan RasulNya.  

Allahu'alam.

saya berharap ampunan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

4 September 2013

inspirasi dari - http://media-islam.or.id/2008/02/29/pandangan-islam-terhadap-harta-kaya-dan-kesederhanaan/
- ...
- ....

Taken for Granted

Saya sering menemukan istilah di atas dalam berbagai literatur berbahasa Inggris yang saya baca, namun - karena sering menjumpainya, saya anggap bahwa saya telah mengerti arti dan maksud idiom tersebut. Entah kenapa, akhir-akhir ini saya tergelitik untuk benar-benar mencari tahu terjemahan arti dan maksud ungkapan tersebut dari sumber yang bonafide – dan mencari padanan maknanya dalam bahasa Indonesia.

Ternyata tidak saya temukan jawaban yang memuaskan saya tentang arti dan makna istilah “taken for granted”. Yang paling dekat menurut saya adalah “menganggap biasa” dan “kurang diperhatikan” atau “biasa aja – gak penting”. 

Menarik bahkan sangat menarik! Karena apabila kita menelusuri proses pembentukan bahasa suatu kelompok, suku atau bangsa. Setiap kata merupakan nama atau sebutan dari suatu obyek tertentu – apakah itu berwujud sebagai benda, suatu aktifitas atau kerja, maupun sifat yang menyertai suatu obyek tertentu. Rumput dinamai rumput karena ada orang yang mengetahui adanya rumput dan ingin menyebutnya dengan suatu sebutan yang spesifik, yakni rumput. Kalau tidak ada rumput, maka orang tidak perlu memberikan atau memilih nama untuk rumput. Karena rumput adalah sesuatu yang tidak ada. Suatu kata benda atau nama atau istilah yang menunjuk kepada suatu obyek sangat mungkin dibentuk oleh ucapan manusia dengan sengaja mengandung sifat dan/atau wujud dari obyek tersebut. Adanya nama adalah karena ada obyek yang membutuhkan nama untuk menyebutnya. Apakah kurangnya referensi bahasa kita tentang istilah tersebut merupakan cerminan budaya masyarakat kita? Tapi saya bukan ahli bahasa dan bukan anthropologist.

Istilah, terkadang menunjukkan suatu makna yang lebih luas ataupun lebih dalam dari pada arti kata dalam istilah tersebut; yang sangat mungkin bahkan tidak sama sekali atau sedukit mewakili arti kata yang tercantum dalam istilah tersebut. Misalnya istilah “tergelitik” yang saya pakai sebelumnya. Nggak ada yang menggelitiki saya secara literal, namun istilah tersebut hanya ungkapan bahwa saya terdorong (biarpun, tidak ada gaya Newton yang benar-benar mendorong tubuh saya) untuk melakukan sesuatu yang lebih dari biasanya. Menunjukkan penekanan akan pentingnya. Istilah ada karena ada obyek yang harus dinamai atau diistilahi..

Tentang istilah taken for granted – yang dimaknai dalam bahasa Indonesia sebagai “dianggap biasa – kurang diperhatikan”, tidak cukup memaknai fenomena besar yang hendak dilukiskan oleh istilah tersebut. Pemiihan kata-kata bahasa Indonesia yang mengartikan istilah tersebut tidak terasa memiliki bobot yang cukup untuk menggambarkan apa yang sebenarnya berlangsung. Bahasa Inggris memilih suatu rangkaian kata yang panjang, mungkin menunjukkan bobot makna yang perlu perhatian lebih – lebih dari sekedar biasanya.

Kita menganggap biasa tentang hal-hal yang kita anggap kecil yang kita temui dan alami setiap hari. Misalnya, ketika terbangun di pagi hari. Suatu hal yang (kita anggap) biasa. Setiap tarikan nafas dan hembusan setelahnya, setiap rangkaian denyut jantung – juga suatu hal yang biasa. Padahal apakah kita yakin seyakin-yakinnya besok pagi dan pagi-pagi selanjutnya kita masih akan bangun dari tidur? Apakah kita juga tahu dan yakin bahwa setelah menarik nafas kita akan menghembuskannya? Demikian juga dengan jantung kita ketika menyusut apakah setelahnya akan berkembang lagi?

 Setiap butir nasi yang kita makan, kita anggap biasa. Padahal, perjalanan butir nasi tersebut dari tidak ada sampai menyusup ke dalam rongga perut kita merupakan rangkaian perjalanan panjang yang dramatis. Karena para petani yang mengerahkan energi dan waktunya sedemikian rupa untuk mengolah tanah, mengairinya; mencari, mengumpulkan dan kemudian menabur benih; menjaganya, sampai waktu panen; penggilingan padi, gabah, pemisahan beras dengan kulit gabah, transport dari satu tempat sampai ke mesin penanak nasi di rumah kita, dan seterusnya dan seterusnya. Namun hal seperti itu cenderung kita anggap biasa – Taken for Granted.

Dan saya bisa membicarakan puluhan kalau tidak ratusan, bahkan bisa ribuan contoh dari hal-hal yang senantiasa kita anggap biasa. Sehingga karena kita menganggap biasa begitu banyak hal – begitu banyak hal pula yang kurang mendapat penilaian kualitatif yang layak, yang sebenarnya merupakan hak mutlak dari hal tersebut.

Apakah sama dengan refleks?

Kita menganggap biasa suatu hal bukan karena kita tidak tahu bahwa hal itu ada. Namun lebih karena kita berasumsi bahwa kita tahu sudah cukup banyak tentang hal itu. Dan kita menganggap bahwa hal itu adalah biasa. Kita merasa bahwa kita sudah ahli. Padahal assumption is the mother of all f…..-ups!

Sebuah teori psikologi menyatakan bahwa kita cenderung untuk tidak memperhatikan (baca: menganggap biasa) sesuatu yang sangat akrab dengan kita. Salah satunya adalah benda yang kita lihat setiap hari, seperti jam tangan kita. Suatu eksperimen psikologi mengungkapkan bahwa sebagian besar subyek pengujian mengalami kesulitan atau bahkan tidak dapat menggambar muka jam tangan mereka. Sesuatu yang mereka lihat berkali-kali dalam sehari. Karena telah terlalu akrab akan berujung kepada sikap menganggap biasa yang berakibat kurangnya perhatian, pengabaian, atau bahkan lebih dari itu.

Itulah juga bedanya anak kecil dengan orang dewasa. Pada perkembangan seorang anak teramati bahwa mereka memiliki rasa ingin tahu yang besar – yang sering cenderung berbahaya. Sebaliknya, orang dewasa pada umumnya, karena (merasa) sudah cukup berpengetahuan – telah kehilangan sebagian besar sifat ingin tahu tersebut. Buat apa tahu lebih banyak lagi, toh sudah cukup tahu. Padahal rasa ingin tahu, ingin mencoba sesuatu yang baru, adalah hakikat dari kreatifitas dan penemuan-penemuan terbesar dalam kehidupan manusia.

Para pakar di berbagai bidang kehidupan dunia, seperti ekonomi, budaya, bahasa, teknologi, psikologi, dan lain-lainnya – adalah orang-orang yang memiliki sikap awal tidak menganggap biasa sesuatu. Mereka masih memiliki dan memelihara sebagian sifat anak kecil dalam jiwa mereka – rasa ingin tahu. Bandingkan dengan makna istilah nggak mau tau. Mereka sadar bahwa ada kekurangan dalam pengetahuan mereka tentang suatu hal. Mereka senantiasa meninjau suatu hal dengan kritis, bahkan dengan berani mempertanyakan kembali suatu hal yang sudah dianggap biasa.

Saya berikan contoh tentang Sir Isaac Newton dengan apelnya. Fenomena apel jatuh dari pohon ke tanah telah hampir pasti terjadi dari sejak adanya apel dan tanah. Tetapi kenapa hanya Newton yang memperhatikannya, mempertanyakannya, memikirkannya dan akhirnya melahirkan suatu pendapat dan memperjuangkan dengan gigih pendapat itu sehingga terkukuhkan menjadi teori tentang gaya tarik bumi atau gravitasi.

Demikian pula dengan seorang ekonom terkenal yang bernama Adam Smith, pada tahun 1776 dengan kritis menyatakan dalam tulisannya yang fenomenal “An Inquiry into the Nature and Causes of The Wealth of Nations”:
“It is not from the benevolence of the butcher the brewer, or the baker that we expect our dinner, but from their regard to their own interest.”
Yang maknanya adalah bahwa apa yang diharapkan tersaji sebagai hidangan makan malam seseorang bukanlah karena keluhuran budi dan kebaikan hati sang tukang daging, pembuat minuman, atau sang tukang roti. Tetapi karena seseorang tersebut dapat memberikan apa yang mereka butuhkan dengan ditukar dengan hasil produksi mereka.

Tentunya kita dan bahkan orang-orang pada jaman sebelum Smith sudah tahu itu, tidak perlu dijelaskan – tidak penting. Namun Smith, secara aktif memilih melakukan pengamatan yang kritis dan analisanya telah melahirkan serangkaian pemikiran yang dianut sebagai landasan prinsip oleh para penyokong konsep perekonomian kapitalis dewasa ini.

Newton dan Smith tidak menganggap biasa fenomena yang mereka jumpai. They did not take things for granted. Diakui atau tidak diakui, dirasakan atau tidak dirasakan. Sikap mereka untuk tidak menganggap biasa hal-hal yang dianggap biasa oleh kebanyakan orang sangatlah berperan mempengaruhi realita kehidupan kita dan manusia seluruhnya. Karena mereka tidak menganggap biasa sesuatu yang dianggap biasa oleh orang lain.

Iya-lah! Kemungkinannya, sebagian dari yang membaca tulisan saya akan berkomentar “Repotnya kalau kita harus tahu begitu banyak hal (yang biasa) …”. Saya jawab: bahkan kata “repot, ruwet, susah dan keluarganya yang lain” adalah indikasi adanya sikap taking things for granted dalam diri anda. Padahal anda juga belum mulai.

Karenanya, mulailah dari sekarang, hidupkan kembali kenangan masa kecil ketika anda tidak ragu untuk memegang sumbu lilin yang menyala, mencerai beraikan boneka Stromboli kesayangan, membongkar radio sang ayah, mencoba terbang dari atap rumah seperti superman dengan sarung sebagai jubah – pandanglah kehidupan ini dengan sikap ingin tahu yang besar. Yakinkan dengan landasan yang kuat dan teruji bahwa apa saja yang anda tahu tentang sesuatu adalah memang mutlak harus seperti itu adanya. Fakta yang akan terungkap akan sangat memperanjatkan anda.

Di jaman sekarang, akses Internet dan Google adalah perangkat yang sangat membantu dalam kita meninggalkan sikap to take things for granted. Sebagaimana nasihat [nasihat atau nasehat?  Jangan dianggap biasa!] saya kepada anak-anak saya: “Kalau kalian punya komputer dan akses Internet (yang dengannya bisa mengakses informasi sebanyak-banyaknya), dan kalian masih nggak juga pinter; itu artinya kalian memang memilih untuk tidak menjadi pinter (baca: goblok!).” Mudah-mudahan mereka tidak menganggap biasa nasihat saya, dan bisa mengambil faedah darinya.

Meninggalkan sikap taking things for granted akan memberikan warna lain yang “Luar Biasa” dari sesuatu yang selama ini kita senantiasa anggap biasa.

Akhirnya, kekaguman saya sampaikan dan karenanya berterima kasih secara tulus kalau rangkaian tulisan yang merupakan pendapat saya ini dibaca sampai pada bagian ini. Saya hanya manusia, banyak kekurangannya, bisa salah, dan bisa lupa. I sincerely also hope that none of you readers of my humble thought take this writing for granted.


30 Mei 2013
minor update 4 September 2013

Saturday, January 7, 2012

Knowledge is Power - but Wisdom is above all.

I just want to share a doctrine that I have believed so far but eventually degraded to a level of total confusion. Back in the early days of my first employment, a boss of mine had taught me that "Knowledge is Power".

I worked in a company that deals in selling, installing and servicing, computer network cabling system and equipment. We had one goverment bank as a customer that we had installed LAN mainframe access equipment a few years before.

One day, the IT division of this bank raised a help call because some of the PCs can't access the mainframe. After a brief analysis, we concluded that it is caused by a faulty "Terminal Server". This device was brought to our office for repair.

As a newly recruited system engineer, the task was give to me. He told me to login to the equipment's console (at that time it was through a terminal emulator software via RS-232). So I did, and found that the device is working perfectly except that it can not retain the parameters that was set onto it.

My boss guided me to series of deductive thinking process, by mentioning several lecture names that I supposedly have had during my university years. It went somehow like this:
"OK, it can't keep the settings you put on it, right?". "Yes." I answered. "What have you learned about electronic devices, that keeps information within?" He asked again. "RAM." I answered confidently. "Right, but it is volatile by nature. When you turn of the device, that information kept in RAM would be gone". "Well, yes, so it is the flash RAM." I confidently took the hint. And then he said: "Right! So what kept a flash RAM going to keep information?". I answered: "Some battery, I guess?". "Is it so? Well, go find a battery inside the equipment, and check if it still have power in it.".

To keep the story short, the deductive thinking that he guided me and the analysis lead to the fact that the faulty device was due to a dead battery powering the flash RAM. I went to get a new battery and replaced it, and it worked normally afterwards. I reported the result to my boss and asked him the next thing to do. And that was the moment of surprise. "Good work! Now call the bank't IT guy and tell him that we had found the problem, but to fix it it would cost him $ 3,000.00" My boss said casually. I naively said to him: "But It only cost me less than $1.00 for the replacement battery, and it's already fixed.". Then he said "Well, true, but don't tell him that you have fixed the problem. Just say as I instructed you to, OK?". Well, despite the disagreement inside me, I had to follow his instruction, and finally the bank agrees to the amount that my boss is extraorbitantly charging.

After the deal went trough, my boss called me and said: "Now, you understand that what have you learned in school have resulted in a contribution of a large sum of money to us. That is why they said that 'knowledge is power'. By knowing, you can have others that are not knowing to pay you. So be careful to share what you know. You might end up with nothing if everybody knows.". My company ended up with a fat 2-years maintenance contract. And whithin that 2-years, all we did was replace batteries worth less than $1. And I ended up by understanding that knowledge can make money.

Are you familiar with the precept: " Rule #1, Your Boss is always right; Rule #2, if your boss is wrong, then see Rule #1"?

My superiority over others are because of my knowledge versus their ignorance. It is the fact of existence of the more informed and the less that make up economy of the human being. Well, later I discovered that the precept is true but my understanding (my boss') is incomplete, and thus irrelevant compared to some of todays on going activities in the era of information. Knowledge is the result of being informed [http://www.systems-thinking.org/dikw/dikw.htm], and wisdom is the noble outcome above having knowledge.

I consider the movement to make knowledge free and widely spread is a noble gesture. Although there is a concept that by knowing more to some extent would not be more productive but resulted in the opposite. It is the paradox of choice. But then it would only be valid when people are informed but having not yet developed knowledge let alone wisdom. There is a huge gap between having much information and being smart.

A friend told me, "Today the definition of computer illiterate has changed. You are not called computer illiterate if you do not know how to use your computer. But you are now being called computer illiterate if you have a computer and don't know how to use the information that are very accessible".

However, the rise of Google has also shown us that it's popularity is based on it's effort to develop a search engine as such that can help people find the right information. As one of Google's VP, Marissa Mayer said "The world doesn't need another search engine...", but yet Google succeeds in winning the hearts of billions of people over the already matured other engines, such as Lycos, Yahoo, and AltaVista. It is the believe of Google to open up the jungle of knowledge and to inform the most appropriate whom is searching.

http://www.youtube.com/watch?v=jaKoMCujc2k

For some other then noble reason that I heard , IBM had made available information about it's PC architecture to the masses in the early 1980s. Look what it had brought us based on Moore's law. An astronomically high computing power in our hands compared to the early computers at relatively miniscule cost.

When talking about his book "That Used to be Us", Thomas L. Freeman said something like this: "there was a time when google is a sound, twitter is a bird, and 4G is a parking lot." And now look what they turned out to be. This is all thanks to the widespread and accessibility of information provided by personal computers, the internet and the most effective search engines.

As I am always telling my children, "If you are gifted to own a computer and having internet access. But yet you do not excell on whatever you do, then it is a matter of choice by which you choose not to excell."

So, I guess the next step after knowledge is power is to develop the ultimate thing which is: wisdom.

---

Monday, November 29, 2010

Si Kipas Merah - Huawei

Beberapa bulan yang lalu, saya dan Yudy berkesempatan untuk berkunjung ke Cina melalui Hongkong menuju Guangzhou. Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah basis Huawei di distrik Bantian, Shenzhen – atas undangan dari departemen SCM (Supply Chain Management).  Kami menjumpai kompleks perkantoran seluas 2-kilometer persegi dengan beberapa gedung masif berkesan moderen minimalis yang terbentuk dari kaca dan baja, dan lansekap hijau yang sangat asri, yang seolah menegaskan eksistensi Huawei di dunia telekomunikasi moderen. Selain itu, kami juga mengunjungi pabrik dan pusat logistik mereka, yang terletak 30-menit perjalanan bis dari kantor mereka. Dengan bis shuttle yang secara rutin melayani lalu-lintas karyawan Huawei dari kantor ke pabrik dan sebaliknya, setiap jamnya. Hanya kekaguman dan perasaan takut menyelimuti perasaan saya.

Kunjungan kami dimulai dengan mengunjungi galeri produk Huawei, suatu ruangan besar di basemen gedung yang dinamakan gedung F1. Di tempat tersebut kami ditemani oleh pemandu khusus yang bertugas untuk memandu dan menjelaskan sejarah dan kekuatan lini produk Huawei. Sebagaimana protokol umum di tempat-tempat produksi perangkat teknologi tinggi, keamanan mensyaratkan bahwa kita tidak boleh membawa masuk komputer jinjing dan USB drive

Kami menyaksikan lini produk Huawei yang terbentang dari produk untuk komunikasi nir-kabel dari handset selular baik GSM maupun CDMA, perangkat Base Transceiver Station, radio microwave, switching, video-conferencing – yang senantiasa on-line dengan kantor Huawei di Beijing, sampai ke produk-produk yang berorientasi pada komunikasi fixed-line seperti serat-optik maupun kawat tembaga.

Sesuatu yang menarik bagi kami adalah bahwa Huawei telah mewujudkan radio BTS tanpa kabel coaxial utama (feeder). Bahkan, mereka telah meng-integrasikan base-station antenna dengan BTS-nya. Suatu fakta yang menggelitik naluri sehingga menimbulkan pertanyaan “bagaimanakah bisnis kita di masa mendatang?”

Sekilas sejarah Huawei, yang saya sarikan dari sebuah artikel di majalah Tempo edisi 4-10 Oktober 2010 – Huawei didirikan oleh Ren Zhengfei, seorang kolonel pensiunan Tentara Pembebasan Rakyat Cina. Dikatakan di situ bahwa Huawei telah melakukan metamorphosis luar biasa dalam dua dasawarsa. Dari sekedar agen penjualan perangkat PBX (private branch exchange) di Hong Kong  menjadi sebuah perusahaan teknologi tinggi di bidang produksi dan pemasaran peralatan jaringan telekomunikasi garda depan. Penjualan Huawei melesat naik dari sekedar USD 100-juta pada tahun 2000 menjadi USD 21,8-miliar pada akhir 2009. Hadir di 100 negara dengan 95.000 karyawan yang 48%-nya bekerja di pusat riset dan pengembangan. Mereka umumnya para pemuda berusia 29-tahun dan 70%-nya adalah insinyur yang telah meraih gelar master, bahkan doktor. Majalah Time beberapa tahun yang lalu menjuluki Zhengfei sebagai Mao Zhe Dong di dunia bisnis Cina. Dia menerapkan strategi perang Mao, desa mengepung kota (ingat, dia militer).

Huawei pada awalnya memulai dengan reverse engineering – membedah dan mengopi produk perusahaan negara maju. Tapi pada akhirnya, mereka mengembangkan teknologinya sendiri. Suatu ciri khas industri di Cina. Mencontek dan akhirnya mengembangkan sendiri.

Dalam sebuah artikel di majalah Kompas yang ditulis oleh Simon Saragih, dikatakan bahwa “China tidak lagi semata-mata sebagai negara yang maju secara ekonomi, kedua terbesar setelah AS. Sejarah seperti terulang. Kebangkitan ekonomi pernah membuat Jerman dan Jepang menjadi kekuatan militer. Sejarah itu berpihak kepada China dengan kebangkitan ekonomi, yang sekaligus memperlihatkan kebangkitan militer.”

Cina secara umum adalah raksasa ekonomi dunia. Sepanjang perjalanan kami, terlihat jejak industrialisasi yang eksesif, seperti polusi dan arus buruh migran. Indonesia telah merasakan kehadiran kekuatan industri Cina, mulai dari barang eceran harian sepatu, baju, asesoris; barang-barang elektronik; sampai kepada produk-produk industri besar seperti genset, motor bahkan mobil. Satu ciri lagi yang menegaskan citra Cina adalah, harganya (relatif) sangat murah.

Di sepanjang jalan Ciawi ke Sukabumi, terlihat beberapa (bekas) pabrik sepatu dan garment yang tutup dan dijual. Apakah ini akibat bahwa kita kalah dalam kompetisi melawan produk Cina? Sangat mungkin. Tuduhan bahwa industri dalam negeri kita terpaksa gulung tikar karena tidak kuat untuk bersaing dengan produk-produk Cina, sudah mulai sering terdengar.

Di saat terakhir sebelum pertemuan 2-hari tersebut ditutup. Dengan penuh kengerian dan kegamangan terlontar suatu pertanyaan spontan dari saya kepada orang-orang Huawei yang mengundang kami “Kalian ini sudah sebegini hebatnya. Yang kami lakukan di Indonesia, sudah kalian lakukan di sini dengan lebih baik dan skala yang lebih besar. Lantas, apa lagi yang bisa kami lakukan?” . SubhanAllah! Jawaban mereka ibarat air segar di tengah padang pasir yang panas dan gersang -  “Ya betul, tapi kami di sini, dan kalian di sana. Kami butuh sebuah perusahaan yang dapat melakukan hal-hal yang kami lakukan di sini, di Indonesia. Kami berharap bahwa kalianlah perusahaan itu,”

Sebagai penutup tulisan ini, ada beberapa aturan yang diadaptasi oleh perusahaan2 yang masih eksis di dunia yang sangat kompetitif ini, yang secara umum saya sarikan dari buku “The World is Flat” oleh Thomas L. Friedman, sebagai berikut:

1.       Bedakan diri Anda dari yang Lain tapi dengan penuh manfaat (Innovation)
a.       Apapun yang dapat dilakukan akan di lakukan. Pertanyaannya adalah apakah hal tersebut akan dilakukan oleh anda atau akan diberlakukan terhadap anda. [Kalau kita bisa memberikan layanan logistik dengan CSP kita, semua orang juga bisa melakukannya – dengan lebih baik dan lebih murah.]
b.      Karena aturan pertama tadi, maka kembangkan imajinasi anda untuk menemukan sesuatu yang berbeda dan berarti.
c.       Tidak cukup dengan itu: Wujudkan imajinasi anda. [“Banyak yang memiliki ide, sedikit yang memulainya, dan lebih sedikit yang menuntaskannya.”]
2.       Sigap. Gapai lebih jauh, lebih cepat, lebih luas dan lebih dalam.
3.       Perhatikan hal yang kecil, yang dengannya memungkinkan orang lain untuk bertindak besar.
a.       Banyak orang yang terjerembab dalam selokan-selokan kehidupan karena hal-hal yang kecil. [Ingat kasus klem di NSN.]
b.      Namun banyak hal-hal kecil yang memiliki arti yang sangat besar dalam kehidupan ini.  [Coba lihatlah retsleting anda dan pikirkan.]
4.       Kolaborasi. Anda tidak dapat bekerja sendiri untuk mencapai sesuatu yang besar. value creation telah menjadi sangat kompleks [ingat CSP]. Anda butuh orang lain.
5.       Introspeksi, dan perbaiki diri, lakukan secara berkesinambungan.
6.       BAGAIMANA anda melakukan sesuatu menjadi penting, bahkan sangat penting!
7.       Jangan pernah putus harapan dan membangun dinding pemisah (bersikap masa bodoh!).

Silahkan merenungkan butir-butir di atas dan ingat bahwa tahun 2011 tinggal selangkah lagi.

Wallahu’alam.